Sabtu, 17 November 2012

Kategori Risalah : Tazkiyah Nufus Bahaya Ambisi Terhadap Harta Dan Kehormatan

BAHAYA AMBISI TERHADAP HARTA DAN KEHORMATAN

Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,


Segala puji bagi rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya dan para shahabatnya sampai hari kiamat.

Dari Ka’ab bin Malik Al-Anshari Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

"Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas, menuju seekor kambing, (maka kerusakan yang terjadi pada kambing itu) tidak lebih besar dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan akibat ambisi terhadap harta dan kehormatan". [2]

Hadit ini berisi permisalan yang sangat agung, yaitu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mencontohkan kerusakan pada dien seorang muslim dengan sebab ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia. Hadits ini mengisyaratkan bahwa orang yang berambisi terhadap harta dan kehormatan (dunia) tidak akan selamat dari keutuhan keislamannya, kecuali sedikit orang yang selamat.

Permisalan yang agung ini mencakup peringatan keras dari bahaya ambisi terhadap harta dan kehormatan di dunia.

Adapun ambisi terhadap harta terbagi menjadi dua macam, yaitu:

Pertama : Sangat cinta terhadap harta, dan memforsir diri serta berlebih-lebihan dalam mencarinya meskipun dengan jalan yang halal.
Walaupun akibat yang timbul dari ambisi terhadap harta hanyalah tersia-sianya waktu dalam hidup ini, padahal memungkinkan bagi manusia untuk memanfaatkan waktu tersebut agar mencapai kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi disisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, cukuplah hal tersebut sebagai celaan terhadap perbuatan ambisi terhadap harta.

Kedua : Disamping yang pertama, dia mencari harta dari jalan-jalan yang haram dan menahan hak-hak yang wajib ia berikan kepada orang lain. Allah berfirman:

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" [at-Taghaabun: 16]

Dalam Sunan Abu Daud dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
:
إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالشُّحِّ أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

"Hati-hatilah kalian terhadap As-syuhh (kikir), sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena disebabkan oleh As-syuhh (kikir). As-syuhh (kikir) itu mengajak mereka untuk bakhil, maka mereka berbuat bakhil; ia itu mengajak memutuskan tali silaturrahmi, maka mereka memutuskan tali silaturrahmi; dan ia itu mengajak mereka untuk berdosa, maka mereka berbuat dosa." [3]

Dan di dalam Shahih Muslim (4/1996, no. 56/2578) dari Jabir Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

اتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

"Hindarilah As-syuhh (kikir) sesungguhnya as-syuhh itu menyebabkan kebinasaan kepada orang-orang sebelum kalian, as-syuh itu membawa mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah buat mereka".

Hakekat as-syuhh itu adalah kecenderungan jiwa kepada apa-apa yang diharamkan oleh Allah, dan tidak puasnya seseorang dari apa-apa yang dihalalkan oleh Allah, baik berupa harta, hubungan sexual dan selainnya, kemudian setelah itu dia melapaui batas dengan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

Al-Bukhlu (pelit) itu adalah menahan diri dari mengeluarkan harta yang dimilikinya. Adapun as-syuh itu adalah mengambil sesuatu yang bukan miliknya secara zhalim dan permusuhan, baik berupa harta ataupun selainnya. Tetapi terkadang kata as-syuh juga dipakai dengan makna al-bukhlu, dan sebaliknya, tetapi pada dasarnya ada perbedaan antara keduanya sebagaimana telah kami sebutkan.

Adapun ambisi seseorang terhadap kehormatan maka hal itu lebih membinasakan daripada ambisi terhadap harta. Sesungguhnya mencari kehormatan dunia, ketinggian dan mengejar pangkat dan jabatan karena senang menjadi pemimpin orang banyak dan melakukan kesombongan di dunia, maka hal itu lebih berbahaya bagi seseorang dibandingkan dengan bahaya yang ditimbulkan akibat ambisi seseorang untuk mengejar harta, bahkan seseorang tidak segan-segan untuk mengeluarkan hartanya demi mencapai kekuasaan dan kepemimpinan atas manusia serta mendapatkan kehormatan di dunia.

Ambisi Terhadap Kehormatan Terbagi Menjadi Dua Macam:
1. Mencari Kehormatan Melalui Jabatan, Kekuasaan Dan Harta.
Hal ini berbahaya sekali karena biasanya akan menghalangi nikmat akhirat dan kemuliannya. Allah berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ اْلأَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لاَيُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي اْلأَرْضِ وَلاَفَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa" [al-Qashash:83]

Dalam Shahih Bukhari no. 7148 dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ...

"Kalian akan berambisi atas kekuasaan dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat...".

Ketahuilah, bahwa ambisi terhadap kehormatan sangat membahayakan pelakunya, (ia akan menghalalkan segala macam cara) dalam usahanya mencapai tujuan, dan juga sangat membahayakan pelakunya ketika telah mendapatkan kehormatan di dunia, dengan cara mempertahankan statusnya meskipun harus melakukan kezhaliman, kesombongan dan kerusakan-kerusakan yang lain sebagaimana dilakukan oleh penguasa yang zhalim.

Di antara bahaya ambisi terhadap kehormatan adalah, biasanya orang yang memiliki kehormatan karena harta atau kekuasaannya, ia akan suka dipuji dengan perbuatannya dan ia menginginkan pujian dari manusia, meskipun terkadang perbuatan itu lebih tepat disebut sebagai perbuatan tercela dari pada perbuatan terpuji. Orang yang tidak mengikuti keinginannya, dia tidak segan-segan untuk menyakiti dan meterornya. Bahkan terkadang dia melakukan perbuatan yang zhahirnya baik, tetapi ia menyembunyikan maksud yang buruk, ia senang dengan kamuflase tersebut, apalagi dengan adanya sambutan yang positif dari khalayak ramai. Perbuatan tersebut termasuk dalam firman Allah:

لا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَآ أَتَواْ وَيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ

"Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa". [ali Imran 188]

Dari sinilah para ulama’ yang mendapatkan petunjuk dari Allah melarang manusia untuk memuji mereka atas kebaikan yang mereka lakukan kepada sesama manusia, bahkan mereka menyuruh manusia untuk mengembalikan pujian hanya kepada pemiliknya, yaitu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, tiada sekutu bagiNya, karena sesungguhnya segala kenikmatan itu datang dariNya.

(Penguasa yang adil) menginginkan agar dien Islam itu semuanya milik Allah, begitu pula kemuliaan hanya milik Allah, bersama itu pula ia takut kalau-kalau ia lalai dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya.

Orang-orang yang mencintai sesama muslim dengan dasar ikhlas karena Allah, maka yang paling mereka inginkan dari orang lain adalah agar manusia mencintai Allah, mentaati dan mengesakanNya dalam beribadah. Mereka tidak menginginkan imbalan jasa ataupun ucapan terimakasih dari manusia, mereka hanya mengharapkan imbalan dari Allah atas amalan baik yang mereka lakukan.

Dari sinilah pengikut setia para rasul, baik para ulama’ maupun para pejabat, tidak mengajak manusia untuk mengagungkan diri mereka sendiri, tetapi hanya mengagungkan Allah saja, dan beribadah kepadaNya. Ada di antara mereka yang menginginkan kekuasaan hanya sebagai sarana untuk amar ma’ruf nahi mungkar, dan berdakwah mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah semata.

2. Mencari Kehormatan Dan Kedudukan Yang Tinggi Di Mata Manusia Melalui Jalan Agama, Seperti Ilmu, Amal Shalih Dan Zuhud.
Bentuk seperti ini lebih keji dari yang pertama, lebih buruk, lebih berbahaya dan lebih besar kerusakannya. Karena sesungguhnya ilmu, amal shalih dan zuhud hanyalah dimaksudkan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah, berupa kedudukan yang tinggi, kenikmatan yang langgeng dan kedekatan denganNya.

Point yang kedua inipun terbagi menjadi dua:
a. Dimaksudkan untuk mencari harta. Ini termasuk ke dalam ambisi terhadap harta dan mencarinya dengan jalan yang diharamkan. Dari nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari ridla Allah, hanya saja dia mempelajarinya semata-mata untuk mendapatkan bagian di dunia maka dia tidak mendapatkan bau syurga di hari kiamat". [4]

b. Dimaksudkan untuk mencari pengaruh pada manusia dan agar dihormati oleh mereka, agar mereka tunduk patuh kepadanya, agar ia menjadi pusat perhatian manusia, untuk menampakkan kepada manusia kelebihan ilmunya melampaui para ulama’, maka orang seperti ini bagiannya adalah neraka. Nabi bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

"Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang yang bodoh atau menandingi para ulama’ atau untuk mencari perhatian manusia, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka".[5]

Dari sini pula para salafus shalih tidak suka lancang dalam memberikan fatwa dan tidak berambisi untuknya, tidak terburu-buru dan tidak suka banyak berfatwa.

Sebagian ulama’ berkata kepada orang yang suka memberikan fatwa: “jika kalian ditanya satu masalah, janganlah perhatian kalian tentang bagaimana terbebas dari si penanya, akan tetapi bagaimana kalian bisa selamat lebih dahulu”. Ada juga yang berkata: “Apabila anda ditanya tentang satu masalah, berpikirlah terlebih dahulu, jika anda mendapatkan jalan keselamatan untuk dirimu maka berbicaralah, jika tidak maka diamlah !”

Dari sini pula para salafus Shalih tidak suka mendatangi dan mendekati para penguasa, adapun ulama’ dunia ia akan masuk dari pintu ke pintu untuk mendapatkan kemuliaan dunia dan kedudukan. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

مَنْ سَكَنَ الْبَادِيَةَ جَفَا وَمَنِ اتَّبَعَ الصَّيْدَ غَفَلَ وَمَنْ أَتَى السُّلْطَانَ افْتُتِنَ

"Barangsiapa tinggal di daerah orang-orang Badui dia akan berperangai kasar, barangsiapa mengikuti hewan buruan ia akan lalai, dan barangsiapa mendatangi pintu para penguasa, ia akan terfitnah".[6]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam haditsnya:

وَمَا ازْدَادَ عَبْدٌ مِنَ السُّلْطَانِ دُنُوًّا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ الهِu بُعْدًا

"Tidaklah seseorang semakin dekat kepada penguasa kecuali akan semakin jauh dari Allah" [7]

Yang sangat ditakutkan atas orang yang mendatangi para penguasa yang zhalim adalah membenarkan kedustaan mereka, menolong kezhaliman mereka meskipun dengan diam membiarkan mereka berbuat zhalim. Karena orang yang mendatangi mereka dengan tujuan mendapatkan kemuliaan dan kedudukan di dunia serta berambisi terhadap keduanya, dia tidak akan mengingkari mereka, bahkan sangat mungkin baginya untuk menganggap baik tindakan buruk mereka, sebagai upaya untuk untuk mendekatkan diri kepada mereka, dan untuk mendapatkan posisi yang baik di sisi mereka, agar mereka membantunya untuk mewujudkan ambisinya.

Dari Ka’ab bin Ujrah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

"Akan datang sesudahku para penguasa, maka siapa yang masuk menemui mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan membantu mereka atas kezhaliman yang mereka lakukan, maka dia bukanlah dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan ia tidak akan minum air telaga. Barangsiapa yang tidak masuk menemui mereka, dan tidak menolong mereka atas kezhaliman mereka, dan tidak membenarkan kedustaan mereka, maka dia adalah termasuk golonganku dan aku darinya dan dia akan minum air telaga".[8]

Banyak dari kalangan Salaf yang melarang masuk mendatangi para penguasa meskipun bertujuan amar ma’ruf nahi mungkar. Di antara mereka adalah Umar bin Abdul Aziz, Abdullah bin Mubarak, Sufyan Ats-Tsauri dan lain-lain.

Abdullah bin Mubarak berkata: “Menurut kami, tidak disebut penganjur kebaikan dan pemberantas kemungkaran, orang-orang yang masuk mendatangi para penguasa untuk amar ma’ruf nahi mungkar, tetapi yang disebut penganjur kebaikan dan pemberantas kemungkaran adalah orang yang menjauhi mereka”.

Penyebabnya adalah apa yang ditakutkan berupa fitnah (kesesatan) akibat masuk menemui mereka. Karena telah dikhayalkan kepada diri manusia, bahwasanya ketika ia masih jauh dari para penguasa, ia dapat menganjurkan kebaikan kepada mereka dan melarang serta mengingkari kemungkaran kepada mereka, lalu jika ia telah menemui mereka dari jarak dekat, condonglah jiwa kepada mereka, ia memendam cinta akan kemulian dunia, ia bahkan bisa jadi jatuh cinta kepada mereka, lebih-lebih jika mereka memberikan kemudahan dan fasilitas kepadanya, dan ia terima pemberian tersebut.

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) telah menulis surat kepada Abbad bin Abbad, di antara isinya adalah: “Hati-hatilah anda dari penguasa, janganlah dekat dengan mereka atau berhubungan dalam urusan apapun, janganlah anda tertipu dengan tipuan Iblis yang membisikkanmu bahwa engkau menemui mereka dalam rangka membela orang-orang yang tertindas dan mengembalikan hak-hak mereka. Hanya ulama su’ (buruk) yang menjadikan dekat dengan penguasa sebagai tangga untuk mencapai ambisi dunianya. Adapaun fatwa yang sudah ada maka pergunakanlah, janganlah menjadi orang yang senang jika ucapanya didengar dan diikuti, serta diekspose secara meluas. Apabila ia meninggalkan itu semua, maka diketahuilah keikhlasannya.

Hati-hatilah anda dari cinta kepemimpinan, karena orang yang berambisi terhadap kepemimpinan ia lebih mencintai kepemimpinan daripada cintanya terhadap emas dan perak. Celah ini sangat tersamar, tidak ada yang mengetahuinya kecuali ulama yang berpengalaman.

Waspadalah dalam urusan hati, dan beramalah dengan niat yang ikhlash, dan ketahuilah sudah dekat waktunya bahwa perkara yang diinginkan oleh seseorang adalah apabila meninggal dunia, wassalam”.

Dikarenakan bahaya ambisi terhadap kemuliaan dunia, maka para Salafush shalih tidak menyukai mempertontonkan keunggulan dirinya kepada manusia, baik dalam hal ilmu, zuhud, dan ibadah. Mereka tidak suka menampakkan amal shalih, ucapan, atau menyebutkan karamah yang Allah berikan kepadanya agar ia dikunjungi, diharapkan berkahnya, dimintai do’anya, dan supaya dicium tanganya, lalu senang serta bergembira terhadap hal demikian, bahkan berusaha untuk mendapatkan penghormatan dari manusia dengan apa yang telah disebutkan tadi.

Dari sinilah para Salafush Shalih sangat tidak menyukai ketenaran, di antara mereka: Ayyub As-Sikhtiani, An-Nakha’i, Sufyan Ats-Tsauri, Ahmad bin Hambal, dan ulama Rabbani lainnya. Mereka merendahkan amalan mereka, dan sangat menyembunyikan amal shalih mereka.

Ibrahim An-Nakha’i apabila sedang membaca Al-Qur’an, kemudian datang seseorang maka ia segera menutupi wajahnya dengan mushaf.

Banyak di antara ulama’ Salaf yang tidak suka apabila ia dimintai do’a, sambil berkata kepada yang minta do’a: “Siapakah saya ini ?” (dia merasa tidak pantas untuk dimintai do’a). Seseorang mengirim surat kepada Imam Ahmad meminta agar beliau berdo’a untuknya, maka Imam Ahmad menyatakan: “Jika kami berdo’a untuknya, maka siapakah yang berdo’a untuk kami?”

Salah seorang shalih menceritakan kepada raja tentang seseorang yang gemar beribadah, maka raja ingin berkunjung kepadanya, diberitahukanlah jadwal kunjungan sang raja kepada ahli ibadah terebut. Pada saat kedatangan raja, ahli ibadah tersebut duduk di pinggir jalan sambil makan, sang raja datang menemui ahli ibadah yang sedang duduk di pinggir jalan sambil makan, raja mengucap salam dan dijawab oleh ahli ibadah dengan singkat sambil menyantap makanan dengan lahap tanpa menghiraukan kedatangan sang raja. Raja menjadi kecewa dan berkata: “Orang ini tidak mempunyai kebaikan sama sekali !” lalu pulanglah sang raja. Setelah sang raja pergi, si ahli ibadah berkata: “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) yang telah menjauhkan saya dari orang itu dan dia pulang dalam keadaan mencelaku”.

Permasalahan ini sangat luas sekali, dan di sini terdapat point yang sangat halus sekali. Yaitu bahwa seorang manusia kadang mencela diri sendiri di hadapan orang lain, dengan tujuan agar orang lain menganggap dia sebagai orang yang tawaddlu’, sehingga ia menjadi mulia dan terpuji di mata manusia. Ini merupakan bagian dari pintu riya’ yang sangat halus, para ulama’ telah memperingatkan terhadap hal ini.

Jelaslah sudah sebagaimana telah kami sebutkan, bahwa cinta harta dan kedudukan serta ambisi terhadap keduanya dapat merusak dien seorang muslim sampai habis tak bersisa, kecuali Allah berkehendak lain. Akar dari cinta kepada harta dan kemuliaan adalah cinta kepada dunia dan akar cinta kepada dunia adalah mengikuti hawa nafsu.

Wahab bin Munabbih berkata: “Mengikuti hawa nafsu akan melahirkan cinta kepada dunia, cinta kepada dunia akan melahirkan cinta kepada harta dan kemuliaan, dan cinta kepada harta dan kemuliaan melahirkan sikap menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah”.

Ucapan itu benar, hanya taqwa kepada Allah yang dapat membentengi seseorang dari mengikuti hawa nafsu dan memalingkan hati kita dari cinta kepada dunia. Allah berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَى . وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى . وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى . فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

"Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)". [an-Nazi’aatL: 37 – 41]

Allah telah mensifatkan penduduk neraka sebagai orang yang memiliki harta dan kekuasaan di beberapa tempat dalam kitabNya. Dia berfirman:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ . وَلَمْ أَدْرِ مَاحِسَابِيَهْ . يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ . مَآأَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ . هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ

"Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya kepadanya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:"Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku, telah hilang kekuasaan dariku". [al-Haaqqaah: 25-29]

Ketahuilah bahwa jiwa manusia mencintai kedudukan yang tinggi melebihi orang lain. Dari sinilah timbul sifat sombong dan hasad, akan tetapi orang-orang yang berakal akan berlomba untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi yang kekal dan langgeng di sisi Allah, mendapatkan ridlaNya dan membenci kedudukan tinggi yang fana dan bersifat sementara, tetapi disertai dengan kemurkaan Allah dan kebencianNya, rendah dan jauh dariNya.

Ambisi untuk mendapatkan kedudukan tinggi di dunia adalah perbuatan tercela yang mengakibatkan kecongkakan dan kesombongan di muka bumi. Sedangkan ambisi untuk mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah adalah hal yang terpuji. Allah berfirman:

وَفيِ ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba" [al-Muthaffifiin: 26]

Untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di akhirat diperintahkan untuk berlomba-lomba dan berambisi terhadapnya, dengan jalan berusaha berjalan di atas rel-relnya, tidak boleh merasa puas dengan rangking terakhir padahal ia mampu meraih rangking teratas. Adapun kedudukan tinggi di dunia, maka di akhirat akan berakibat penyesalan dan kerugian serta kehinaan dan kerendahan yang akan dirasakan oleh orang yang berambisi. Maka yang disyari’atkan dalam hal ini adalah menghindar dan zuhud terhadapnya.

BEBERAPA PENYEBAB ZUHUD
Untuk memproleh sikap zuhud terdapat beberapa sebab, di antaranya:
1. Dengan merenungi tentang akibat buruk di akhirat dengan sebab kehormatan dunia, berupa jabatan dan kekuasaan bagi orang yang tidak melaksanakan tugasnya dengan benar.

2. Dengan merenungi tentang hukuman yang diperoleh bagi orang-orang yang zhalim dan sombong.

3. Dengan merenungi tentang pahala yang didapatkan oleh orang-orang yang ketika di dunia rendah hati, ikhlas karena Allah, yaitu dengan mendapatkan derajat yang tinggi di akhirat, karena sesungguhnya barangsiapa yang rendah hati karena Allah (tawaddlu’), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.

4. Zuhud didapat bukan karena kemampuan seorang hamba, akan tetapi merupakan karunia Allah dan rahmatNya. Orang yang zuhud akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia sesuai dengan janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Kehidupan yang baik ini berupa balasan yang segera akan Allah berikan bagi orang-orang yang zuhud terhadap harta dan kemuliaan dunia. Kehidupan yang baik ini secara zhahir berupa kemuliaan taqwa dan kewibawaan di mata manusia, dan secara bathin berupa manisnya iman dan ketaatan.

Barangsiapa mendapat karunia zuhud dari Allah, tentu ia sibuk mencari kemuliaan akhirat dan tidak akan tertipu dengan kemuliaan dunia yang semu dan sementara. Allah berfirman:

وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

"Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik". [al-A’raaf: 26]

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فِلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka milik Allah-lah semua kemuliaan itu". [al-Fathiir: 10]

Muhammad bin Sulaiman, seorang gebernur Bashrah datang menemui Hammad bin Salamah. Gubernur itu duduk di hadapan Hammad lalu bertanya: “Wahai Abu Salamah, mengapa setiap kali saya memandangmu, saya gemetar segan kepadamu ?” Beliau menjawab: “Karena seorang alim apabila menghendaki ridla Allah dengan ilmunya, maka segala sesuatu akan takut kepadanya, apabila ia menginginkan untuk memperbanyak harta dengan ilmu, maka ia takut kepada segala sesuatu”.

Barangsiapa sibuk membina dirinya untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, dengan jalan mengenal Allah, takut kepadaNya, cinta kepadaNya, selalu merasa dalam pengawasanNya, tawakkal, ridla dengan takdirNya, merasa tentram dan rindu kepadaNya, dia akan sampai kepadaNya dan dia tidak akan perduli dengan kedudukan yang tinggi di sisi manusia. Meskipun demikian, Allah akan memberikan kedudukan yang tinggi di mata manusia, dan mereka hormat kepadanya, padahal dia sendiri tidak menginginkan hal tersebut, bahkan lari menjauhinya dan khawatir kalau kehormatan dunia ini bisa memutuskan jalannya menuju ridla Allah. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

"Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang. [Maryam : 96]

Dan dalam sebuah hadits yang shahih:

إِذَا أَحَبَّ الهُa الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ الهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ الهَa يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي اْلأَرْضِ

"Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman: “Wahai jibril Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!” lalu Jibrilpun mencintainya. Lalu jibril berseru kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!”, maka penduduk langitpun mencintainya. Kemudian dia di karuniai dengan diterimanya di muka bumi". [HR. Bukhari no. 3037, 5693,7047 dan Shahih Muslim no. 2637]

Kesimpulannya mencari kehormatan akhirat akan mendapatkan kehormatan akhirat plus kehormatan dunia, meskipun ia tidak menginginkan dan tidak mencarinya. Sedangkan mencari kehormatan dunia tidak akan bertemu dan tidak akan mungkin berkumpul dengan kehormatan akhirat.

Orang yang bahagia adalah orang yang lebih mengutamakan akhirat yang kekal dibandingkan dengan dunia yang fana.

https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,
_______
Footnote
[1] Disarikan dari kitab: Syarhun wa bayanun lihaditsi “MAA DZI’BAANI JA’IAANI” Oleh Al-Imam Ibnu Rajab t (736-795), Takhrij : Muhammad Shubhi Hasan Hallaq, Penerbit : Muassasah Ar-rayyan-Beirut-Libanon, Cet: Pertama, tahun 1413 H – 1992 M. Penerjemah: Fariq bin Ghasim Anuz
[2]. HR. Ahmad, Nasa’, Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya, Imam Tirmidzi berkata (tentang) hadits ini: “Hasan shahih”. Muhammad Shubhi Hasan Hallaq menyatakan: “Hadits ini telah dishahihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Albani dan selain mereka
[3]. Syeikh Muhammad Syubhi Hasan Hallaq menyatakan hadits ini Shahih. HR. Abu Daud 2/324 no. 1698.
[4]. HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban serta dishahihkan oleh Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq
[5]. HR. Tirmidzi no. 2654 dari Ka’ab bin Malik serta dishahihkan oleh syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq
[6] HR. Ahmad. Abu Daud no. 2859, Tirmidzi dan Nasa’i no. 4309. Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq berkata: “Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam Al-Jami’ (I/163), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (4/72), Ibnu Katsir dalam tafsirnya (2/397), Thabrani dalam Al-Kabir no. 11030, dan Bukhari dalam Al-Kuna (8/70) dan itu adalah hadits shahih, dan dishahihkan pula oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud
[7]. HR. Ahmad, Abu Daud no. 4860. Syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq berkata: “Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (1/312) Al-Qudhai dalam Musnad as-Syihab (1/222 no. 339) dan Syeikh Al-Albani memuatnya dalam as-Shahihah no. 1272
[8]. (HR. Ahmad 3/321 dan 399, Tirmidzi 4/525 no. 2259, Nasa’i 7/160, 161 no. 4207 dan 4208 dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (Dalam Al-Ihsan 1/248 no. 279; 1/249 no. 282; 1/250 no. 283; dan 1/251 no. 285

Kategori Risalah : Tazkiyah Nufus Mengendalikan Syahwat

MENGENDALIKAN SYAHWAT

Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,


Allah Ta'ala menciptakan manusia dengan disertai syahwat. Adanya syahwat pada diri manusia tidak sia-sia, akan tetapi terdapat faidah dan manfaat di dalamnya. Bahkah jika manusia tidak memiliki syahwat (selera) makan, misalnya, kemudian dia tidak makan, sehingga akan menyebabkan dirinya binasa. Demikian juga jika manusia tidak memiliki syahwat terhadap lawan jenis, maka keturunan dapat menjadi terputus.

Oleh karena itu, keberadaan syahwat pada manusia tidak tercela. Celaan itu tertuju jika manusia melewati batas dalam memenuhi syahwat. Karena ada sebagian manusia yang tidak memahami hal ini, mengira bahwa syahwat pada manusia merupakan perkara tercela, sehingga mereka berusaha meninggalkan semua yang sebenarnya diinginkan oleh jiwanya. Bahkan di antara mereka ada yang berkata: "Aku memiliki istri selama sekian tahun, aku menginginkankannya, namun aku tidak pernah menyentuhnya!" Hal seperti ini, sesungguhnya merupakan perbuatan zhalim terhadap jiwa, karena menghilangkan haknya. Padahal jiwa memiliki hak yang harus dipenuhi, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabat beliau yang bernama 'Utsman bin Mazh'un Radhiyallahu 'anhu :

فَإِنِّي أَنَامُ وَأُصَلِّي وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَنْكِحُ النِّسَاءَ فَاتَّقِ اللَّهَ يَا عُثْمَانُ فَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَصَلِّ وَنَمْ

"Sesungguhnya aku biasa tidur dan shalat, berpuasa dan berbuka, dan aku menikahi wanita-wanita. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai 'Utsman, karena sesungguhnya keluargamu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu, tamumu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu, dan jiwamu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu. Maka puasalah, berbukalah, shalatlah (pada sebagian waktu malam, Pen.) dan tidurlah (pada sebagian waktu malam, Pen)".[1]

Anggapan seperti ini juga merupakan penyimpangan dari keyakinan terhadap sesuatu yang halal, dan menyelisihi Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam . Karena beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa meminum madu dan minuman manis, dan itu merupakan kesukaan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Adapun sebagian manusia yang meninggalkan perkara-perkara yang mereka sukai itu dengan beralasan karena zuhud (meremehkan) terhadap dunia. Tetapi zuhud yang mereka lakukan itu diiringi dengan kebodohan terhadap agama, sehingga zuhud mereka itu tidak bernilai kebaikan. Karena mengharamkan sesuatu yang dihalalkan agama –meskipun hanya bagi dirinya sendiri- merupakan kezhaliman terhadap jiwa, bukan merupakan keadilan. Bukankah mengambil sesuatu yang halal yang disukai jiwa -pada sebagian waktu- dan untuk menguatkan jiwa, itu ibarat pengobatan bagi orang yang sakit? Dan hal itu tentu terpuji dan tidak tercela.

MENGENDALIKAN SYAHWAT PERUT
Walaupun memenuhi kebutuhan hidup yang disukai itu diperbolehkan, namun bukan berarti seorang mukmin dibolehkan selalu memperturutkan hawa nafsunya, bahkan dia harus mengendalikannya. Di antaranya, yaitu mengendalikan syahwat perut. Karena syahwat perut ini termasuk salah satu perkara yang dapat membinasakan manusia. Syahwat ini pula yang menjadi penyebab Nabi Adam Alaihissalam dikeluarkan dari surga yang kekal. Dan dari syahwat perut ini, kemudian timbul syahwat kemaluan dan rakus terhadap harta benda.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah (kesesatan, ujian) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

"Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kalian, ialah syahwat mengikuti nafsu pada perut dan pada kemaluan kalian serta fitnah-fitnah yang menyesatkan".[2]

Syahwat mengikuti nafsu perut dan kemaluan merupakan fitnah syahwat, sedangkan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat.

Oleh karena itu seorang mukmin memiliki cara makan yang berbeda dengan orang-orang kafir.

Di dalam hadits yang shahih diriwaytakan:

عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ لَا يَأْكُلُ حَتَّى يُؤْتَى بِمِسْكِينٍ يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَدْخَلْتُ رَجُلًا يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَكَلَ كَثِيرًا فَقَالَ يَا نَافِعُ لَا تُدْخِلْ هَذَا عَلَيَّ سَمِعْتُ النَّبِيَّ n يَقُولُ الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

"Dari Nâfi', ia berkata: "Kebiasaan Ibnu 'Umar, tidak makan sehingga didatangkan seorang miskin yang akan makan bersamanya," maka aku memasukkan seorang laki-laki yang akan makan bersamanya. Laki-laki itu makan banyak, maka Ibnu 'Umar berkata: "Wahai Nâfi', janganlah engkau masukkan (lagi) orang ini kepadaku. Aku telah mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,'Seorang mukmin makan memenuhi satu usus, sedangkan orang kafir makan memenuhi tujuh usus'." [HR. Bukhari, no. 5391].

Para ulama berbeda pendapat tentang makna sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini. Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksudkan oleh hadits ini ialah bukan zhahirnya. Sedangkan sebagian lain mengatakan, bahwa hadits ini benar sesuai dengan zhahirnya. Kemudian para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Adapun makna yang tepat, ialah -sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, bahwa hadits ini sesuai dengan zhahirnya, yaitu menunjukkan kebiasaan/keadaan dominan. Maksud yang dikehendaki dengan bilangan tujuh, yaitu sebagai penekanan untuk menunjukkan banyak. Sehingga makna hadits ini, bahwa keadaan orang mukmin ialah sedikit makan, karena ia sibuk melakukan sarana-sarana ibadah, dan mengetahui tujuan makan menurut syariat, ialah untuk menghilangkan lapar, melangsungkan kehidupan, dan menguatkan ibadah. Dan karena seorang mukmin takut terhadap hisab yang disebabkan melampaui batas dalam hal makanan. Sedangkan orang kafir sebaliknya, karena tidak memahami maksud syari'at, bahkan dia mengikuti hawa nafsunya, tanpa ada rasa takut terhadap akibat-akibat keharamannya. Maka jadilah makannya seorang mukmin sepertujuh, jika dibandingkan dengan makannya orang kafir. Namun hal ini tidak berarti berlaku umum untuk semua orang mukmin ataupun orang kafir.

Terkadang di antara orang-orang mukmin ada yang makannya banyak. Bisa jadi karena kebiasaan, atau karena sesuatu yang berhubungan dengannya, seperti karena penyakit yang tidak nampak, atau lainnya. Begitu pula terkadang di kalangan orang-orang kafir ada yang makannya sedikit. Bisa jadi karena untuk menjaga kesehatan sebagaimana menurut pendapat para dokter, atau karena latihan menurut pendapat para pendeta, atau karena faktor kelemahan lambung, dan semacamnya.

Kesimpulannya, di antara keadaan orang mukmin, ialah semangat dalam berbuat zuhud dan merasa cukup dengan perbekalan. Dan ini berbeda dengan orang kafir. Sehingga, jika seorang mukmin atau seorang kafir tidak didapati berada pada sifat ini, maka bukan berarti membatalkan hadits ini".[3]

Adapun tidak disukainya banyak makan, juga disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai berikut:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

"Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukup bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada pilihan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya"[4]

Penjelasan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini ialah puncak kebaikan. Sedangkan keadilan dalam makan, yaitu menyudahi makan ketika masih ada keinginan untuk menambah. Adapun menyedikitkan makan secara terus-menerus, akan dapat menyebabkan lemahnya kekuatan. Banyak orang yang menyedikitkan makan, sehingga mereka juga melalaikan terhadap kewajiban-kewajiban agama karena faktor kebodohan. Mereka menyangka hal itu merupakan keutamaan. Padahal anggapan itu tidak benar. Adapun maksud para ulama yang menjelaskan tentang keutamaan lapar, ialah menunjukkan pada keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas. Dan para ulama, sama sekali tidak membolehkan penyimpangan terhadap syariat. Wallahul-Musta'an.

MENGENDALIKAN SYAHWAT KEMALUAN
Hendaklah kita mengetahui, syahwat terhadap lawan jenis yang diciptakan pada diri manusia memiliki hikmah dan faidah. Antara lain, ialah untuk memelihara keberlangsungan hidup manusia di muka bumi sampai waktu yang Allah kehendaki. Demikian juga agar manusia merasakan kenikmatan, yang dengan kepemilikan syahwat itu, ia dapat membandingkan kenikmatan dunia dengan kenikmatan kehidupan di akhirat. Karena orang yang belum pernah merasakan suatu jenis kenikmatan, maka ia tidak akan merindukannya. Tetapi, jika syahwat terhadap lawan jenis ini tidak dikendalikan dengan baik, akan dapat memunculkan banyak keburukan dan musibah. Karena sesungguhnya fitnah (ujian) terbesar bagi laki-laki adalah wanita, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

"Tidaklah aku menginggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita".[5]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari hadits ini dengan perkataan: “Hadits ini menunjukkan bahwa fitnah yang disebabkan wanita merupakan fitnah terbesar daripada fitnah lainnya. Hal itu dikuatkan firman Allah: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita…” (Qs Ali-Imran/3 ayat 14) yang Allah menjadikan wanita termasuk hubbu syahawat (kecintaan perkara-perkara yang diingini), bahkan Dia menyebutkannya pertama sebelum jenis-jenis lainnya, sebagai isyarat bahwa wanita-wanita merupakan hal utama dalam masalah itu”. (Fathul-Bari)

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata: “Kebanyakan yang merusakkan kekuasaan dan negara, ialah karena menaati para wanita”.[6]

Sebagian orang shalih berkata: "Seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku terhadap baitul mal, aku menduga akan mampu melaksanakan amanah tersebut atasnya. Namun seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku atas diri seorang gadis untuk bersendirian satu jam saja, aku tidak merasa aman atas diriku padanya"[7]. Karena fitnah wanita, dapat menyebabkan seseorang dapat terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan hingga melupakannya terhadap akhirat. Seperti memandang wanita yang bukan mahramnya, menyentuhnya, berpacaran, bahkan sampai berbuat zina.

Sesungguhnya perkara yang mudah untuk menjaga diri dari fitnah wanita sejak permulaannya, ialah sebagaimana telah diajarkan Allah Ta'ala, yaitu dengan menahan pandangan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat". [an-Nûr/24: 30]

Dalam hal ini, Allah Ta'ala juga tidak mencukupkan hanya dengan memerintahkan kepada laki-laki yang beriman saja agar menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya, tetapi Allah juga mengiringkan perintah-Nya kepada wanita-wanita:

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya".[an- Nûr/24: 31].

Akan tetapi, ketika seseorang melepaskan kendali terhadap syahwatnya semenjak awal, maka di akhirnya dia akan sangat kesulitan mengatasinya. Ibarat seekor kuda yang berlari menuju ke suatu pintu yang akan dimasukinya, maka akan sangat mudah mengarahkan kuda itu dengan cara menarik kendalinya dan membelokkannya ke arah lain. Sebaliknya betapa susah, setelah kuda itu memasuki pintu tersebut, kemudian orang berusaha memegangi ekornya dan menariknya ke belakang. Alangkah besar perbedaan dua hal di atas.

Kemudian, karena beratnya menjaga dan mengendalikan fitnah syahwat ini, maka Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam memberikan jaminan surga terhadap orang yang dapat mengendalikannya dengan baik.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

"Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya".[8]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan: Makna "menjamin (untuk Nabi)", ialah memenuhi janji dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan dengan menjamin, sedangkan yang beliau maksudkan ialah konsekwensinya, yaitu menunaikan kewajibannya. Sehingga maknanya, barang siapa yang menunaikan kewajiban pada lidahnya, yaitu berbicara sesuai dengan kewajibannya, atau diam dari apa yang tidak bermanfaat baginya; dan menunaikan kewajiban pada kemaluannya, yaitu meletakkannya pada yang halal dan menahannya dari yang haram.

Sedangkan yang dimaksud dengan "apa yang ada di antara dua rahangnya", yaitu lidah dan apa yang dilakukannya, yaitu perkataan. Sedangkan "apa yang ada di antara dua kakinya" ialah kemaluan.

Ad-Dawudi mengatakan, "apa yang ada di antara dua rahangnya" adalah mulut. Dia mengatakan, sehingga itu meliputi perkataan, makanan, minuman dan semua perbuatan yang dilakukan dengan mulut. Dia juga mengatakan, barangsiapa berusaha menjaganya, maka ia telah aman dari semua keburukan, karena tidak tersisa kecuali pendengaran dan penglihatan". Namun masih tersembunyi baginya, yaitu memukul dengan tangan.

Sesungguhnya pengertian hadits ini berbicara dengan lidah merupakan hal utama dalam meraih semua yang dicari. Jika seseorang tidak berbicara kecuali di dalam hal kebaikan, maka dia selamat. Ibnu Baththal t berkata, hadits ini menunjukkan bahwa bencana terbesar atas seseorang di dunia adalah lidah dan kemaluannya. Sehingga barang siapa menjaga keburukan keduanya, dia telah menjaga dari keburukan yang terbesar.[9]

Maka siapa yang akan menyambut tawaran agung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini? Wallahul-Musta'an.

https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,
Footnotes
[1]. HR Abu Dawud, no. 1369 dari 'Aisyah x . Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.
[2]. HR Ahmad dari Abu Barzah al-Aslami. Dishahihkan oleh Syaikh Badrul Badr dalam ta’liq Kasyful- Kurbah, hlm. 21.
[3]. Lihat Fathul-Bari, Penerbit Darus Salâm, Riyadh (9/667-669).
[4]. HR at-Tirmidzi, no. 2380. Ibnu Majah, no. 3349. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.
[5]. HR al-Bukhari no: 5096. Muslim, no: 2740, dan lainnya, dari Usamah bin Zaid.
[6]. Iqtidha` Shirathil-Mustaqim, hlm. 257.
[7]. Mukhtashar Minhajul-Qashidin, hlm. 213, Tahqiq: Syaikh Ali al-Halabi.
[8]. HR al-Bukhari, no. 6474. At-Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi Bukhari.
[9]. Fathul-Bari, syarh hadits no. 6474 secara ringkas.

Kategori Risalah : Tazkiyah Nufus Tidak Sepantasnya Manusia Menyombongkan Diri

TIDAK SEPANTASNYA MANUSIA MENYOMBONGKAN DIRI

Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,


APAKAH KESOMBONGAN ITU?
Kesombongan (takabbur) atau dikenal dalam bahasa syariat dengan sebutan al-kibr yaitu melihat diri sendiri lebih besar dari yang lain. Orang sombong itu memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan siapapun. Dia memandang orang lain hina, rendah dan lain sebagainya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu 'alaihi wa salllam :

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia". [HR. Muslim, no. 2749, dari 'Abdullah bin Mas'ûd]

Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ‘ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri). Sifat ‘ujub, hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang.

SEBAB-SEBAB KESOMBONGAN
Sebab-sebab kesombongan, antara lain:

1- ‘Ujub (Membanggakan Diri)
Ketahuilah wahai hamba yang bertawadhu’ –semoga Allah lebih meninggikan derajat bagimu-, bahwa manusia tidak akan takabbur kepada orang lain sampai dia terlebih dahulu merasa ‘ujub (membanggakan diri) terhadap dirinya, dan dia memandang dirinya memiliki kelebihan dari orang lain. Maka dari ‘ujub ini muncul kesombongan. Dan ‘ujub merupakan perkara yang membinasakan, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهُوَيَ مُتَبَعٌ وَإِعْجَابٌ اْلمَرْءِ بِنَفْسِهِ

"Tiga perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya". [Silsilah Shahihah, no. 1802]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

"Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat". [HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim]

2- Merendahkan Orang Lain.
Ketahuilah wahai hamba (Allah), bahwa orang yang tidak meremehkan manusia, tidak akan takabbur terhadap mereka. Sedangkan meremehkan seseorang yang dimuliakan Allah dengan keimanan sudah cukup untuk menjadikan sebuah dosa.

3- Suka Menonjolkan Diri (Taraffu).
Ketahuilah wahai hamba yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, bahwa jiwa manusia itu menyukai ketinggian di atas sesamanya, dan dari sini muncul kesombongan.

Oleh karena itu, barangsiapa memperhatikan Al-Qur’an niscaya akan mendapati bahwa orang-orang yang bersombong pada tiap-tiap kaum adalah para pemukanya, yaitu orang-orang yang memegang kendali berbagai urusan. Allah Ta’ala berfirman tentang suku Tsamud, kaum Nabi Shalih Alaihissalam yang artinya: "Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: "Tahukah kamu bahwa Shalih di utus (menjadi Rasul) oleh Tuhannya?". Mereka (yang dianggap lemah-red) menjawab: "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya".

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu".

Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata: "Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)". [al-A’râf/7:75-77]

Dan Allah Ta’ala memberitakan tentang kaum Nabi Syu’aib Alaihissalam :

"Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan dan berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami". Syu'aib berkata: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?" [Al-A’raaf/7: 88]

Namun orang yang berakal akan berlomba pada ketinggian yang tetap lagi kekal, yang di dalamnya terdapat keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kedekatan kepadaNya. Dan dia meninggalkan ketinggian sementara yang akan binasa, yang akan diikuti oleh kemurkaan Allah dan kemarahanNya, kerendahan hamba, kesibukannya, jauhnya dari Allah dan terusirnya (dari rahmat) Allah. Inilah ketinggian yang tercela, yaitu sikap melewati batas dan takabbur di muka bumi dengan tanpa kebenaran. Allah Ta’ala berfirman:

"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin ketinggian (menyombongkan diri ) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa". [Al-Qashash/28: 83]

Adapun ketinggian yang pertama (yakni ketinggian yang tetap lagi kekal di akhirat) dan bersemanagat untuk meraihnya, maka itu terpuji. Allah Ta’ala berfirman:

"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba".[Al-Muthaffifin/83: 26]

Maka disyari’atkan berlomba-lomba untuk (meraih) derajat-derajat tinggi di akhirat yang kekal, dan berusaha meraih ketinggian pada tingkatan-tingkatannya, serta bersemangat untuk itu dengan berusaha melakukan sebab-sebabnya. Dan hendaklah seseorang tidak merasa puas dengan kerendahan, padahal dia mampu meraih ketinggian.

4- Mengikuti Hawa Nafsu.
Ketahuilah wahai hamba Allah, bahwa kesombongan itu muncul dari sebab mengikuti hawa nafsu, karena memang hawa nafsu itu mengajak menuju ketinggian dan kemuliaan di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman:

"Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?" [Al-Baqarah/2: 87]

BAHAYA KESOMBONGAN
Ketahuilah wahai hamba Allah yang hatinya dihiasi dengan tawadhu’ (rendah hati) bahwa bencana kesombongan itu sangat besar, orang-orang istimewa binasa di dalamnya, dan jarang orang yang bebas darinya, baik para ulama’, ahli ibadah, atau ahli zuhud. Bagaimana bencana kesombongan itu tidak besar, sedangkan kesombongan itu:

1- Dosa Pertama Yang Dengannya Allah Azza Wa Jalla Dimaksiati.
Kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan Iblis laknatullah dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa jalla. Kesombongan itu menyeret Iblis untuk menjadikan takdir sebagai alasan terus-menerus sombong. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam!," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir". [Al-Baqarah/2: 34]

2- Kesombongan Merupakan Kawan Syirik Dan Penyebabnya.
Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla menggabungkan antara kekafiran dengan kesombongan di dalam kitabNya yang mulia, Dia Azza wa Jalla berfirman:

"Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir". [Shaad/38: 73-74]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

" (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir". [Az-Zumar/39: 59]

Karena barangsiapa takabbur dari patuh kepada al-haq (kebenaran) –walaupun kebenaran itu datang kepadanya lewat tangan seorang anak kecil atau orang yang dia benci dan musuhi- , maka sesungguhnya takabburnya itu adalah kepada Allah, karena Allah adalah Al-Haq, perkataanNya adalah haq, agamaNya adalah haq, al-haq merupakan sifatNya, dan al-haq adalah dariNya dan untukNya. Maka jika seorang hamba menolak al-haq, takabbur dari menerimanya, maka sesungguhnya dia menolak Allah dan takabbur terhadapNya. Dan barangsiapa takabbur terhadap Allah, niscaya Allah akan menghinakannya, merendahkannya, mengecilkannya, dan meremehkannya.

3- Orang-Orang Yang Sombong Tempat Kembalinya Adalah Neraka.
Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan neraka sebagai rumah bagi orang-orang yang sombong, sebagaimana di dalam surat Al-Ghafir ayat 76 dan surat Az-Zumar ayat 72. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya". Maka neraka Jahannam Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri". [Az-Zumar/39: 72]

Dan orang-orang yang sombong adalah para penduduk neraka Jahannam, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

إِنَّ أَهْلَ النَّارِ كُلُّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ جَمَّاعٍ مَنَّاعٍ وَأَهْلُ الْجَنَّةِ الضُّعَفَاءُ الْمَغْلُوبُونَ

"Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong di dalam jalannya, orang yang bersombong, orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk sorga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan". [Hadits Shahih. Riwayat Ahmad, 2/114; Al-Hakim, 2/499]

Mereka akan merasakan berbagai macam siksaan di dalam Jahannam, akan diliputi kehinaan dari berbagai tempat, dan akan diminumi nanah penduduk neraka. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ

"Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan)". [Hadits Hasan. Riwayat Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad, no. 557; Tirmidzi, no. 2492; Ahmad, 2/179; dan Nu’aim bin Hammad di dalam Zawaid Az-Zuhd, no. 151]

4- Kesombongan Merupakan Tirai Penghalang Masuk Surga.
Oleh karena itu Allah mengusir Iblis dari surga, Dia Azza wa Jalla berfirman:

"Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya!". [Al-A’râf/7: 13]

Kesombongan itu menjadi tirai penghalang masuk surga karena menghalangi seorang hamba dari akhlaq orang-orang beriman. Orang sombong tidak menyukai untuk kaum mukminin kebaikan yang dia sukai untuk dirinya. Dia tidak mampu bersikap rendah hati dan meninggalkan hasad, dendam, dan marah. Dia juga tidak mampu manahan murka, dia tidak menerima nasehat, dan tidak selamat dari sifat merendahkan dan menggibah manusia. Tidak ada sifat yang tercela kecuali dia memilikinya.

5- Allah Tidak Mencintai Orang-Orang Yang Sombong.
Barangsiapa yang memiliki sifat-sifatnya seperti ini, maka dia berhak mendapatkan laknat Allah, jauh dari rahmatNya, Allah memurkainya dan tidak mencintainya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong". [An-Nahl/16: 22-23]

6- Kesombongan Merupakan Sebab Su-ul Khatimah (Keburukan Akhir Kehidupan).
Oleh karena itu Allah memberitakan bahwa orang yang sombong dan sewenang-wenang adalah orang-orang yang Allah menutup hati mereka, sehingga mereka tidak beriman. Sehingga akhir kehidupannya buruk. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang". [Al-Mukmin/40: 35]

7- Kesombongan Merupakan Sebab Berpaling Dari Ayat-Ayat Allah.
Yang demikian itu karena orang yang sombong tidak bisa melihat ayat-ayat Allah yang menjelaskan dan berbicara dengan dalil-dalil yang pasti. Juga karena kesombongan itu menutupi kedua matanya, sehingga dia tidak melihat kecuali dirinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi". [Al-A’raaf/7: 146]

8- Kesombongan Merupakan Dosa Terbesar.
Kesombongan memiliki berbagai bahaya seperti ini; maka tidak heran jika ia merupakan dosa terbesar. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوْا تُذْنِبُونَ لَخِفْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبُ الْعُجْبُ

"Jika kamu tidak berbuat dosa, sungguh aku mengkhawatirkan kamu pada perkara yang lebih besar dari itu, yaitu ‘ujub, ‘ujub (kagum terhadap diri sendiri)" [Hadist Hasan Lighairihi, sebagaimana di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 658, karya syaikh Al-Albani] https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,

[Diadaptasi dan disadur oleh Ustadz Muslim Atsari secara bebas dari tulisan Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali At-Tawaadhu’ fii Dhauil Qur’anil Kariim was Sunnah ash-Shahiihah, hlm. 35-44; Penerbit. Daar Ibnul Qayyim; Cet. 1; Th. 1410 H / 1990 M]

Kategori Risalah : Tazkiyah Nufus Gerbang Hidayah

GERBANG HIDAYAH


Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,


Ihdinash-shirathal mustaqim, shirathalladzina-an`amta `alaihim… Begitulah seorang muslim melafazhkan kalimat per kalimat dua ayat saat membaca surat al Fatihah. Artinya, tunjukilah kami kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat….

Seorang muslim senantiasa membacanya pada setiap raka'at shalat, saat beribadah kepada Allah. Satu isyarat yang menunjukkan, betapa pentingnya hidayah, sehingga seorang muslim harus memohonnya, minimal tujuh belas kali dalam satu hari satu malam. Hidayah itu sangat dibutuhkan, sebagaimana tubuh membutuhkan makanan dan minuman. Begitulah, hatinya juga memerlukan hidayah sebagai sarana memenuhi kebutuhannya.

Hidayah, merupakan nikmat yang dianugerahkan Allah Azza wa Jalla kepada seorang hamba. Ia merupakan salah satu nikmat yang agung dari sekian banyak nikmat. Dan nikmat hidayah, adalah nikmat yang bernilai istimewa.

Hidayah merupakan sentuhan lembut Ilahi, yang akan mengantarkan seorang hamba kepada pantai kebahagiaan. Ia merupakan wujud kasih-sayang Ilahi, sehingga seorang hamba tidak terjatuh ke dalam jurang kesalahan dan kesengsaraan. Ia menuntun seorang hamba yang dikuasai hawa nafsu, sehingga menjadi terbimbing kepada kehendak Dzat Yang Maha Kuasa. Maknanya, Allah tidak membiarkan seorang hamba berada dalam kesendirian ketika mencari kebenaran. Akan tetapi, tanganNya menuntunnya ke arah yang Dia ridhai.

Jika demikian yang terjadi pada seorang hamba, maka hal itu merupakan pertanda baik. Berarti, jejak-jejak kasih-sayang Allah sudah tampak di kalbunya. Mahabbah Allah kepadanya sedang datang menuju hatinya. Maka seorang hamba hendaklah segera menampungnya dalam kalbunya. Jangan biarkan hidayah Allah berlalu. Jangan biarkan hidayahn itu meninggalkannya, sehingga menyebabkan seorang hamba harus menunggu dan menunggu, tanpa mengetahui kapan akan datang kembali. Bisa jadi, penantian itu tidak berkesudahan.

CARA ALLAH AZZA WA JALLA MEMBERIKAN HIDAYAH
Allah memiliki banyak cara untuk membuat seorang hamba kembali kepada kebenaran, setelah lama ia bergumul dengan kemaksiatan. Ternyata, fitrahnya tak bisa mengingkari, bahwa tidak ada kebahagiaan, kecuali kembali kepada Allah.

Ada seorang parewa [1] yang telah banyak melakukan dosa. Salah satunya, dia telah membunuh banyak orang, hingga 99 orang. Tiba-tiba rasa kerinduan kepada kebenaran menghentaknya. Lalu pergilah ia bertanya kepada orang-orang, apakah ada yang bisa mencarikan jalan keluar terhadap permasalahan yang ia punyai. Orang-orang menunjukkannya kepada seorang ahli ibadah. Setelah bertemu dengan orang yang yang ditunjukkannya tersebut, ia pun menanyakan tentang dosa yang telah ia lakukan, yaitu membunuh 99 orang. Apakah bagi dirinya masih terbuka pintu taubat dan hidayah? Ternyata, orang yang ditanya menjawab : "Tidak," mendengar jawaban tersebut, parewa ini serasa marah, hingga dibunuhlah seorang ahli ibadah yang ditanya ini. Menjadi lengkaplah ia membunuh 100 orang.

Sekalipun ia mengulangi dosa yang telah lalu, tetapi ternyata tidak membuatnya putus asa. Kemudian, parewa ini pun kembali mencari seseorang yang bisa memberikan jawaban terhadap masalah yang menghantui pikirannya. Dia pun bertemu dengan seorang ahli ilmu.

Bertanyalah ia : "Saya telah membunuh 100 orang. Yang terakhir saya bunuh bukanlah orang sembarangan. Dia ahli ibadah, yang mungkin di mata Allah jauh lebih mulia dari 99 orang yang telah saya bunuh sebelumnya. Apakah pintu taubat masih terbuka bagi saya?”.

Mendengar pengaduan sang pemuda ini, seorang ahli ilmu ini menjawab : "Siapakah yang dapat menghalangi antara dirimu dengan taubat?”

Mendengar penjelasan ini, Sang Pemuda mengangkat kepalanya, seakan tidak percaya mendengar dari jawaban tersebut. Wajahnya berbinar, air matanya menetes karena bahagia. Selesailah sudah pengembaraannya. Saatnya ia menghirup hari-hari bahagia. Perilaku dan perbuatan yang telah meletihkan dan menyengsarakannya, tidak akan ia ulangi lagi. Dan ia pun menuruti nasihat seorang 'alim ini yang mengatakan : "Akan tetapi, berangkatlah engkau ke negeri yang jauh. Yaitu ke tempat orang-orang yang shalih. Jangan kembali lagi ke negerimu, karena negerimu tidak baik".

Berangkatlah ia melangkahkan kaki meninggalkan kampung halaman. Di dalam lubuk hatinya, ia berazam untuk hijrah dari semua amal buruk menuju kebaikan.[2]

Kebanyakan orang menemukan hidayah, tatkala jiwanya sedang remuk redam disebabkan karena musibah yang sedang menimpanya. Musibah ini menumbangkan semua kesombongannya, meluluh-lantakkan ketidakpeduliannya terhadap Allah dan syari'atNya. Ketika seorang hamba sudah berada di atas jurang kehancuran, Allah menahannya, lalu menuntunnya dengan kelembutan dan kasih-sayangNya. Akhirnya, hamba yang sombong ini terselamatkan, kembali kepada jalan Allah. Ini semua dikarenakan hidayah Allah.

Dia, seperti seorang prajurit yang membelot dan berkhianat, tetapi telah kalah berperang melawan atasannya. Kemudian, dengan pakaian lusuh, wajah kotor dan berdebu, luka-luka memenuhi sekujur tubuhnya, ia kembali. Dia menyerah. Dengan menyerahkan diri secara sukarelala, ia memiliki harapan, mudah-mudahan sang atasan akan memaafkan kesalahannya.

Terkadang Allah menundukkan kesombongan seorang hamba dengan membinasakan kekayaan, yang seorang hamba ini merasa memilikinya selama ini. Kesadaran muncul setelah api besar membakar rumahnya atau istananya, dan segala kekayaan yang ia peroleh dengan menghabiskan semua waktu dan masa mudanya yang hanya untuk mengumpulkan harta.

Terkadang Allah memaksanya untuk bersujud dan membaluri keningnya dengan tanah, setelah ia kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kadangkala Allah memberi hidayah kepada seseorang, setelah orang itu terjerat dalam kasus korupsi; setelah ia merasakan sempitnya penjara, dan pedihnya kehilangan jabatan. Maka ia tinggalkan dunia, dan ia kembali kepada Allah.

Atau terkadang Allah menimpakan penyakit kepadanya, sehingga menyebabkan dirinya terbaring lemas. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, ia tetap tergolek di atas kasur, setelah puluhan tahun dengan kesehatan yang dimilikinya ia melawan Allah, dengan selalu berbuat maksiat. Dia menyangka, seakan ia memiliki kekuatan.

Mereka itu adalah orang-orang beruntung. Mereka menemukan jalan kembali, setelah diberi teguran oleh Dzat Maha Pencipta.

Ada lagi manusia, yang juga menjadi mulia karena memperoleh hidayah. Yaitu orang-orang yang dihentikan pengembaraannya, disebabkan kerinduannya kepada kebenaran. Seperti perjalanan ikan solmon, ia melintasi sungai, menyeberangi lautan, mengarungi samudera, melintasi benua. Bermil-mil perjalanan telah ia tempuh. Ketika sudah tiba masanya, ada kerinduan memanggilnya untuk kembali ke fithrahnya sebagai seorang hamba, sekalipun banyak aral menghalanginya. Orang-orang itu, termasuk diantaranya adalah para sahabat yang mulia, Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal.

Khalid, seorang ksatria, panglima yang tidak pernah terkalahkan, hamba Allah Azza wa Jalla yang tawadhu, pemilik jiwa besar, karena dia memang orang besar. Semuanya tentu mengetahui, apa yang telah ia perbuat terhadap kaum Muslimin di perang Uhud. Dengan ketajaman pandangannya, ia dapat merubah kekalahan menjadi kemenangan untuk Quraisy. Yang ini sebagai kemenangan pertama dan terakhir bagi mereka. Sang ksatria ini, hampir pada semua tempat dan dimanapun berada, dia selalu menunjukkan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Akan tetapi, cahaya hidayah telah mengubahnya. Sebelum penaklukan Mekkah, ia mengajak kawan karibnya, yaitu 'Amr bin Ash untuk berangkat menuju Madinah, dengan tujuan meyatakan keislaman.

Berangkatlah mereka dengan 'azam (tekad) yang telah kuat. Dan tetaplah ia berlaku sebagai ksatria dari Quraisy. Setibanya di Madinah, ia pun mengutarakan keinginannya. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengulurkan tangan kepadanya, maka Khalid bin Walid menarik kembali tangannya, seraya berucap : "Dengan syarat, wahai Nabi Allah Azza wa Jalla, agar Allah Azza wa Jalla menghapuskan segala perbuatanku semasa jahiliyah". Bagaimanakah Rasulullah menanggapi permintaannya? Beliau n tersenyum dan berkata,"Apakah engkau belum mengeri, wahai Khalid? Sesungguhnya Islam menghapuskan semua perbuatan engkau sebelum ini!"

Alangkah indah pembicaraan tersebut, penuh dengan pemahaman, kebeningan, keteduhan, ketulusan dan kejujuran. Menggetarkan setiap muslim yang mendengarnya, apalagi yang menghadirinya. Bagaimanakah peristiwa ini bisa terulang kembali oleh pendengaran kita pada zaman kita sekarang ini?

Adapun Ikrimah, dia adalah orang yang ikut serta mengusir Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Mekkah beberapa tahun yang lalu. Setelah Mekkah dikuasai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Ikrimah mencoba lari dari kenyataan. Dia seberangi lautan. Dia lintasi lautan padang pasir. Dalam kesendiriannya, ia coba tinggal di negeri orang. Dia mencoba menahan diri dari dorongan kembali kepada kebenaran. Telah ia coba. Akan tetapi, ternyata panggilan itu begitu kuat. Keinsafan menghinggapi hari-harinya. Maka, ia mencoba untuk melangkahkan kaki pulang, menyatakan kelemahan diri dan mengantarkan kepasrahan jiwa.

Disebutkan oleh Ibnu Hajar, ketika Ikrimah dalam pelarian, di sebuah bahtera, datanglah badai, lalu orang-orang yang berada dalam bahtera itu berteriak : "Ikhlaskan niat kalian kepada Allah. Sesungguhnya Tuhan (berhala) kalian tidak mendatangkan manfaat sedikitpun," sehingga tenanglah badai itu, lalu ia berkata,"Ya Allah, jika keikhlasan yang menyelamatkanku di lautan, tentu ia juga yang akan menyelamatkanku di daratan. Demi Allah, aku berjanji, jika aku selamat dari kejadian ini, aku akan mendatangi Muhammad, dan aku letakkan tanganku di atas tangannya.[3]

Itulah satu contoh datangnya hidayah, yang kemudian diraihnya.

Ada lagi, yang dalam mendapatkan hidayah, mereka memperolehnya melalui pencarian yang cukup melelahkan. Berpindah dari satu ajaran kepada ajaran lain. Dari agama satu kepada agama lain. Hingga akhirnya, diapun memperoleh apa yang diinginkan. Contoh yang tepat untuk golongan ini adalah Salman al Farisi.

Yang juga sangat luar biasa, sebagai bukti kasih-sayang Allah terhadap hambaNya, yakni golongan yang seolah sudah masuk dalam katagori yang tidak mungkin ada harapan untuknya. Seakan tidak ada denyut kebenaran dalam hatinya. Seolah hatinya benar-benar telah mati, lalu rahmat Allah mendahuluinya, dan iapun memperoleh hidayah. Contoh dari golongan ini adalah Umar bin Khaththab.

Tentang dirinya diturunkan ayat dalam surat al An`am ayat 122, Allah berfirman.

"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan" [al-An'am : 122].

Inilah permisalan dari Allah untuk seorang hamba, yang pada mulanya hatinya terpuruk dalam kesesatan, lalu Allah menghidupkan kembali hatinya. Yang tadinya gersang, Dia segarkan dengan iman. Allah memberinya petunjuk untuk mengikuti RasulNya. Dia memasukkannya kepada Islam, agama penyerahan diri. Saat itu, ia telah mulai mengerti hal-hal yang bermanfaat dan membahayakan dirinya. Ia pun berusaha untuk melepaskan diri dari kemurkaan dan hukuman Allah Azza wa Jalla. Pandangannya mulai mengenal kebenaran, yang sebelumnya ia tidak bisa melihatnya. Ia sudah mulai belajar, yang sebelumnya ia buta. Dan ia sudah mulai belajar pula untuk mengikuti syari'at Allah, yang sebelumnya ia berpaling darinya. Sampailah ia memperoleh cahaya hidayah. Dengan cahaya itu, ia dapat menggunakannya untuk menerangi perjalanannya kepada Allah Azza wa Jalla, di tengah kegelapan manusia.[4]

MUARA KEBENARAN
Para ulama mengatakan, semua perbuatan badan, yang lahir darinya perbuatan baik maupun perbuatan buruk, amal shalih maupun amal thalih, hakikatnya dikuasai oleh satu komando, yaitu hati atau qalbu. Ibarat raja, qalbu memiliki kekuasaan terhadap bala tentaranya. Semua tindakan berada di bawah perintah dan larangannya. Ia dapat menggunakan sekehendaknya. Semua di bawah kuasa dan penuh pengabdian kepadanya.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, itulah hati" [5]

Hidup dan bercahayanya hati, berarti merupakan pertanda jika dirinya telah memiliki modal untuk meraih segala kebaikan. Begitu pula sebagaimana mati dan gelapnya hati, itu merupakan pertanda jika ia memiliki dasar keburukan.

Oleh karenanya, hati yang bisa merengkuh hidayah Allah Azza wa Jalla, baik ia sendiri yang melangkah, atau hidayah yang mendekatinya, atau sebab tertentu kemudian Allah k berbuat atas diri hambaNya sesuai dengan keinginan dan kehendakNya, maka hati yang seperti ini, berarti hati tersebut masih dalam kategori hidup, dan hati tersebut masih mempunyai cahaya, meskipun redup.

Dengan hidupnya hati, berarti menunjukkan semua perangkat tubuhnya masih aktif, baik pendengaran maupun penglihatannya, malu dan jati dirinya. Begitu pula ia masih memiliki semua akhlak yang mulia, cinta kepada kebaikan dan rasa benci kepada keburukan.

Hati yang baik, juga ibarat magnit. Semakin kuat kadar magnitnya, maka akan semakin kuat pula hidayah melekat kepadanya, atau ia sendiri yang melekat kepada hidayah.

Berbeda dengan hati yang mati. Sedikit demi sedikit telah meninggalkan unsur magnit, sebab maksiat yang sedang berproses pada hatinya telah merubahnya menjadi unsur lain, yang tidak lagi dapat menarik hidayah. Bahkan ia tidak dapat mendeteksi dan mengenalinya sama sekali.

Hati inilah yang menjadi kebahagiaan atau kesengsaraannya di dunia. Hati jugalah yang membuat akhir kehidupan hamba di dunia ditutup dengan husnul khatimah atau su-ul khatimah.

Dari 'Abdullah bin Mas`ud, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ [في رواية - فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ] حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ [في رواية - فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ] حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

"Dan demi Dzat yang tidak ada yang berhak diibadahi selainNya, sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan penduduk surga [dalam riwayat lain : yang nampak oleh manusia], sampai tidak ada jarak antara dia dengan surga, kecuali tinggal satu hasta. Kiranya kitab (taqdir) telah mendahuluinya. Lalu ia beramal dengan amalan penduduk neraka, sehingga ia masuk ke dalamnya. Dan seseorang beramal dengan amalan penduduk neraka [dalam riwayat lain : yang nampak oleh manusia], sampai tidak ada jarak antara dia dengan neraka, kecuali tinggal satu hasta. Kiranya kitab (taqdir) telah mendahuluinya. Lalu ia beramal dengan amalan penduduk surga, sehingga ia masuk ke dalamnya”.[6]

Ibnu Rajab berkata,"(SAbda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam "yang nampak oleh manusia) ini memberikan adanya petunjuk, bahwa (perkara) batin tidak sesuai dengan lahirnya. Bahwa su`ul khatimah terjadi karena tersembunyinya dosa yang tidak terlihat oleh manusia, baik dari sisi amalan buruk maupun yang lainnya. Sifat yang tersembunyi tersebut mengantarakannya kepada su`ul khatimah ketika dekat kematian. Begitu juga seseorang beramal dengan amal penduduk neraka, lalu pada akhir hidupnya sifat yang tersembunyi itu mengalahkan amalan buruknya, yang menyebabkannya mendapat husnul khatimah.” [7]

Ibnu Daqiqil 'Id rahimahullah mengatakan, akan tetapi hal seperti ini jarang terjadi, disebabkan kasih-sayang Allah dan keluasan rahmatNya; perubahan manusia dari yang buruk kepada yang baik banyak terjadi. Sedangkan perubahan seseorang dari yang baik kepada yang buruk, sangat langka ditemukan. Segala puji untukNya atas itu semua. [8]

Ya Allah Azza wa Jalla ! Hiasilah kami dengan hiasan iman. Jadikanlah kami pemberi petunjuk untuk manusia yang telah Engkau beri hidayah, tidak sesat dan menyesatkan. Jadikanlah kami untuk tetap mencintai orang yang mencintai karenaMu.
https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,

_______
Footnote
[1]. Parewa adalah bahasa Minang. Yaitu pemuda yang hidupnya bergelimang dosa dan maksiat, akan tetapi masih memiliki iman dan merasa segan terhadap orang yang taat beragama.
[2]. HR Bukhari, 6/512; Muslim, no. 2766, dari Sa`ad bin Malik bin Sinan.
[3]. Ash-Shabah, 4/538.
[4]. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2/231 dan Ighatsul Lahfan, Ibnul Qayyim, halaman 26.
[5]. HR Bukhari, 1/126, no. 52; Muslim, 11/57, no. 1599, dari hadits Nu'man bin Basyir.
[6]. HR Bukhari, 6/303, no. 3208, 3332, 6594; Muslim no. 2643.
[7]. Jami` Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab, 1/57.
[8]. Syarh Arba'in an Nawawiyah, Ibnu Daqiqil-'Id, 1/31.

Kategori Risalah : Tazkiyah Nufus Cara Mewujudkan Ibadah

CARA MEWUJUDKAN IBADAH

Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,


عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الأَسْلَمِيِّ قَالَ كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي: سَلْ. فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ. قَالَ: أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ، قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Dari Rabi’ah bin Ka’ab Al Aslami Radhiyallahu 'anhu, dia mengatakan: Aku menginap di rumah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku membantu membawakan air wudhu dan keperluan beliau, lalu beliau berkata,”Mintalah sesuatu kepadaku!” Saya menjawab,”Saya minta agar bisa bersamamu di surga!” Beliau bersabda,”Atau yang lain (dari) itu?” Aku menjawab,”Itu saja,” maka beliau bersabda,”Bantulah aku (untuk mengalahkan) nafsu (diri)mu dengan banyak bersujud.” [HR Imam Muslim].

Peribadatan kepada Allah merupakan tujuan diciptakannya seorang hamba. Lalu bagaimanakan cara mewujudkannya?

1. Meminta Tolong Kepada Allah Azza Wa Jalla.
Jika beribadah kepada Allah Azza wa Jalla merupakan tujuan dan keinginan akhir seorang hamba, maka dia akan bertawajjuh (menghadap) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, agar Allah menolongnya dalam beribadah dan agar Allah memberikan hidayah kepadanya untuk mampu menunaikan hak-hak Allah Azza wa Jalla. Karenanya meminta tolong kepada Allah agar bisa mencapai ridhaNya merupakan permintaan yang paling utama. Oleh karena itu juga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada sahabat kesayangannya, Muadz Bin Jabbal Radhiyallahu 'anhu. Beliau bersabda,

يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَلاَ تَنْسَ أَنْ تَقُولَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Wahai Muadz! Sungguh saya suka kepadamu, maka di akhir tiap shalat janganlah engkau lupa membaca doa (artinya), Ya Allah bantulah saya untuk berdzikir kepadaMu, untuk bersyukur kepadaMu, dan untuk menjadi baik dalam beribadah kepadaMu" [1].

Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah! Jika engkau konsisten beribadah kepada Allah dan engkau masukkan dirimu ke dalam peribadatan kepadanya, maka Dia Azza wa Jalla akan membantumu. Jadi masuknya dirimu ke dalam pengabdian kepada Allah merupakan sebab untuk mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semakin sempurna peribadatan seorang hamba, maka semakin besar pula ia mendapatkan pertolongan dari Allah Azza wa Jalla.

Beribadah kepada Allah diapit oleh dua jenis pertolongan, yaitu pertolongan sebelum melakukannya, yakni untuk teguh menjalankan peribadatan terkait; dan pertolongan kedua, yakni untuk istiqamah menjalankan peribadatan terkait serta menjalankan peribadatan lainnya. Demikianlah seterusnya, selama engkau menjadi hamba Allah Azza wa Jalla.

Orang yang menghayati kedudukan ini, niscaya ia akan mendapati bahwa do’a yang diajarkan Nabi di atas merupakan do’a paling bermanfaat. Bahkan merupakan inti do’a yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Itulah yang dimaksudkan Allah dalam Al Fatihah.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan".

2. Sabar Dalam Beribadah
Wahai sekalian umat! Orang yang tujuan akhirnya adalah Allah, ia pasti akan memiliki semangat yang tinggi. Dia kumpulkan semangatnya. Dia siapkan kemampuannya, dan ia singkirkan tuntutan hawa nafsunya, supaya ia bisa naik pada posisi tinggi di hadapan Allah Azza wa Jalla, Dzat yang dicintai dan ditaatinya. Ia juga akan memperbaiki kesalahan-kesalahan di jalan, agar tetap mapan di peringkat ini.

Ya, itu merupakan perbuatan sulit; sulitnya mengumpulkan, menyiapkan dan melepaskan diri dari segala yang menghalangi ibadah …

Namun, itu juga merupakan kenikmatan yang tidak bisa dirasakan, kecuali oleh orang yang sudah merasakan nikmat dan manisnya perbuatan itu. … Akan tetapi, itu semua tidak akan bisa didapatkan, kecuali dengan kerja keras. Jika engkau sudah mampu melewati masa-masa sulit itu, maka ia akan memberimu keharuman, sehingga tertebarlah bau wanginya. Engkaupun menjadi orang yang pantas berada pada posisi itu, dan engkau termasuk orang yang bisa memahaminya dengan pemahaman yang sebenarnya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَاعْبُدُوْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ

"Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepadaNya".[Maryam:65].

Dan

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاَةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya". [Thaha:132].

Perbuatan ibadah dalam Islam itu, mencakup semua kegiatan, gerakan, kesibukan, niat dan arah. Sungguh (betapa) sulit bagi seorang manusia mengarahkan semua itu hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Sebuah kesulitan yang membutuhkan kesabaran. Dan sebuah jalan yang membutuhkan kesungguh-sungguhan, agar hati bisa terbebas dari noda-noda hawa nafsu, tipuan syethan dan keburukan jiwa.

Namun, siapapun yang menanam keikhlasan, ia pasti akan menuai keselamatan. Dan siapapun yang menanam benih ittiba’ (mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam), ia akan memetik hasil kebenaran dalam berkata dan berbuat. Dan barangsiapa yang menjaga (syari’at) Allah, Allah Azza wa Jalla pasti akan menjaganya. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik" [Al Ankabut:69]

Dan kepada posisi inilah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan isyarat,

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

"Neraka itu ditutupi dengan syahwat (yang disenangi hawa nafsu) dan surga ditutupi dengan makarih (hal-hal yang tidak menyenangkan)" [2]

Jadi surga itu ditutupi dan dikelilingi dengan makarih.

Makarih adalah perintah yang dibebankan kepada mukallaf untuk melawan hawa nafsu dalam melaksanakan perintah itu; baik itu (berupa) perintah untuk mengerjakan ataupun perintah untuk meninggalkan. Seperti melaksanakan ibadah dengan benar dan menjauhi larangan dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Dan diungkapkan dengan kalimat makarih (sesuatu yang dibenci, tidak menyenangkan, pent.) karena berat dan sulitnya hal itu bagi pelaku. Namun akibatnya lebih manis daripada madu.

لاَ تَحْسَبَنَّ الْمَجْدَ تَمْرًا أَنْتَ آكِلُهُ
لَنْ تَبْلُغَ الْمَجْدَ حَتَّى تَلْعَقَ الصَّبْرَ

Jangan engkau sangka kemuliaan itu seperti kurma yang engkau makan
Engkau tak akan mencapai kemuliaan sebelum engkau teguk kesabaran

Dan benarlah pekataan seorang penya’ir

وَالصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ
لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ

Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya
Akan tetapi akibatnya lebih manis daripada madu

3. Muraqabatullah (Merasa Selalu Dalam Pengawasan Allah)
Ini adalah tingkatan ihsan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan isyarat kepada tingkatan ihsan ini dalam hadits Jibril yang panjang, ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang ihsan, beliau bersabda:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"(Ihsan adalah) engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihat engkau". [3]

Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Ini memberikan isyarat, bahwa seorang hamba dalam beribadah kepada Allah (hendaknya) dengan cara seperti ini. Yaitu merasakan kedekatan Allah, dan bahwasanya Allah itu di depannya, seolah-olah hamba ini melihatNya. Itu semua dapat menimbulkan rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla dan pengagungan kepadaNya, sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.

أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ

"Hendaknya engkau takut kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya.”[4]

Wajib juga hukumnya, untuk ikhlas dalam beribadah, mengerahkan seluruh kemampuan dalam memperbaiki, meningkatkan dan menyempurnakan ibadah.

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Jika engkau tidak dapat melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihat engkau".

Ada yang mengatakan, ungkapan itu merupakan pengungkapan alasan bagi perkara yang pertama (yaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, pent.). Sesungguhnya seorang hamba jika diperintahkan untuk muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla) dalam ibadahnya dan merasakan kedekatan Allah kepada hambaNya sampai seakan-akan ia melihatNya, maka ini terkadang sulit bagi seorang hamba. Untuk mewujudkan ini semua, seorang hamba bisa memanfaatkan keyakinannya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melihatnya. Allah mengetahui perbuatan hamba yang dikerjakan dengan sembunyi-sembunyi dan dengan terang-terangan. Allah mengetahui hati dan zhahirnya. Tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Allah Azza wa Jalla.

Jika ini sudah terwujud, maka akan mudah baginya untuk naik ke tingkat berikutnya, yaitu senantiasa menyadari kedekatan Allah kepada hambaNya dan ma’iyah Allah (kebersamaan ilmu Allah dengan hambaNya, pent.), sampai seakan-akan dia melihatNya. [5]

Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Orang yang mencapai tingkatan ini, seakan bisa melihat RabbNya Azza wa Jalla di atas langit, di atas ‘ArsyNya sedang mengawasi hamba-hambaNya. Dia melihat mereka. Allah mendengar ucapan-ucapan mereka dan Allah melihat zhahir dan bathin mereka.

Seakan hamba ini mendengar Rabbnya sedang berbicara kepada Jibril Alaihissalam, lalu Jibril menyampaikan wahyu kepada hamba Allah. Allah memerintahkan dan melarang sesuai dengan keinginanNya. Allah mengatur alam ini, makhlukNya naik turun berdasarkan perintahNya.

Seakan hamba ini dapat melihat Rabbnya dalam keadaan ridha, murka, senang, benci, memberi, menahan rizki, tertawa, gembira, memuji wali-waliNya di hadapan para malaikatNya dan mencela musuh-musuhNya.

Seakan hamba ini dapat melihat Rabb dan kedua tanganNya. Satu menggenggam tujuh lapis langit, dan yang satunya lagi menggenggam tujuh lapis bumi. Allah k melipat tujuh lapis langit dengan tangan kananNya sebagaimana dilipatnya kertas-kertas buku.

Seakan hamba ini dapat melihat Rabbnya yang datang untuk memberikan pengadilan kepada hamba-hambaNya, sehingga bumi penuh dengan cahayaNya. Kemudian Allah berseru –dari atas ArsyNya- dengan suara yang dapat didengar oleh yang jauh, sebagaimana didengar oleh yang dekat,

وَعِزَّتِيْ وَجَلاَلِيْ لاَ يُجَاوِزُنِيْ الْيَوْمَ ظُلْمُ ظَالِمٍ

"Demi keperkasaan dan keagunganKu, pada hari ini tidak akan ada kezhaliman seorangpun yang luput dariKu".

Seakan hamba ini mendengar seruan Rabb kepada Adam Alaihissalam,

يَا آدَمُ قُمْ فَابْعَثْ بِعْثَ النَّارِ

"Wahai Adam, bangkitlah! Pisahkanlah golongan orang yang masuk neraka".

Begitu juga seruan Rabb kepada makhluk di Mahsyar

مَاذَآ أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

"Apakah jawabanmu kepada para rasul?" [Al Qashash:65]

Apakah yang kalian sembah dulu?

Singkat kata, dengan hati, seseorang dapat melihat Rabb yang diperkenalkan oleh para rasul, sebagaimana dikenalkan juga oleh kitab-kitab Allah Azza wa Jalla dan agama yang didakwahkan oleh para rasul, serta kenyataan-kenyataan yang dikabarkan para rasul. Demikianlah, ia bangkit menyaksikan semua itu dengan hatinya, laksana bangkitnya seseorang yang menyaksikan berita mutawatir. Maka orang seperti ini, keimanannya seperti orang yang terbuka matanya. Sedangkan iman orang lain hanya ikut-ikutan, laksana orang buta.”[6]

Dan nasihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada pembantu beliau Rabi’ah bin Ka’ab As Aslami Radhiyallahu 'anhu, yang termasuk Ahli Shuffah, telah mencakup langkah-langkah mewujudkan penghambaan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

Berikut ini adalah penjelasannya,

Pertama : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar ia membantu beliau untuk mengalahkan nafsu (diri) Rabi’ah sendiri. Maka tidak diragukan lagi, bahwa barangsiapa yang membantu Nabi untuk mengalahkan nafsu dirinya, maka pertolongan yang pertama kali diminta untuk mengalahkan nafsu adalah pertolongan dari Allah Azza wa Jalla. Diantara do’a yang ma’tsur (dalam hal ini) ialah:

وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

"Janganlah engkau bebankan aku kepada diriku meskipun sekejap"[7].

Jadi, seorang hamba sangat membutuhkan pertolongan dari Allah k untuk mengalahkan nafsunya yang berada di sampingnya.

Hanya kepunyaan Allah sajalah jika ada mutiara kata berikut : Bila pertolongan Allah tidak diberikan pada seorang pemuda. Maka dosa pertama yang ia tanggung adalah ijtihadnya

Kedua : Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Tolonglah aku untuk mengalahkan nafsu (diri)mu.” Disini terdapat penjelasan, bahwa hawa nafsu itu tabi’atnya bertolak belakang dengan usaha mencapai derajat yang tinggi di akhirat. Karenanya membutuhkan kesungguh-sungguhan dan kesabaran dalam beribadah, agar tidak tertinggal dari golongan orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah.

Ketiga : Sabda Rasulullah “dengan banyak bersujud”.
Barangsiapa banyak bersujud kepada Allah, maka dia akan mendapatkan kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla, sebagimana yang diisyaratkan dalam firman Allah Azza wa Jalla,

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب

"Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb)!" [Al Alaq:9].

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

"Seorang hamba paling dekat kepada Rabbnya ketika dia sujud, maka perbanyaklah do’a" [8]

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

"Adapun ruku’, maka pada waktu itu agungkanlah Rabb kalian. Sedangkan sujud, maka pada saat itu bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a. Niscaya do’a kalian akan dipenuhi" [9]

Jadi sujud termasuk diantara saat-saat dikabulkannya do’a. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menunjukkan (kepada Rabi’ah Bin Ka’ah) saat-saat terkabulnya do’a. Beliau menyuruh Rabi’ah agar membiasakan diri mengetuk pintu do’a, dan beliau juga mengajari Rabi’ah cara mengetuk pintu do’a tersebut. Barangsiapa keadaannya seperti ini, maka sebentar lagi pintu ijabah akan dibukakan. Dan hanya kepada Allah kita mohon pertolongan.
https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,

_______
Footnote
[1]. Hadits shahih, sebagaimana telah saya jelaskan dalam kitab Shahih Kitabil Adzkar Wa Dha’ifuhu
[2]. Diriwayatkan Imam Bukhari 320/11 dalam Fathul Bari dan Imam Muslim 2823, dari Abu Hurairah, dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas dengan kalimat
[3]. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khattab dan diriwayatkan oleh Bukhari serta Muslim dari Abu Hurairah
[4] HR Muslim, pent
[5]. Iqazhul Himam Al-Muntaqa Min Jami'il 'Ulum Wal Hikam, halaman 71-72 karya saya (Syaikh Salim)
[6]. Madarikussalikin 3/153-154
[7]. Dikeluarkan oleh Imam Nasa’i dalam kitab Amalul Yaumi Wal Lailati, dan juga Ibnu Sunni no. 49 dengan sanad yang baik, sebagaimana sudah saya jelaskan dalam kitab Ujalatur Raghibil Mutamanni.
[8]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim no. 482.
[9]. Imam Muslim no. 479

Kategori Risalah : Tazkiyah Nufus Musuh-Musuh Manusia

MUSUH-MUSUH MANUSIA


https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,


Kita memahami, bahwa Allah Azza wa Jalla menciptakan fitrah atas diri manusia, yaitu bisa mengetahui dan mengenal kebenaran, serta menjauhi dan menghindari kebathilan. Akan tetapi, meskipun fithrah manusia itu sudah disiapkan dan memiliki kemampuan untuk mengetahui yang haq dan yang bathil, namun bukan berarti untuk mengamalkan al haq ataupun menghindari yang bathil itu mudah.

Ada rintangan dan hambatan yang menjadi ujian. Ada musuh yang selalu menghalangi dari jalan al haq. Dan sebaliknya ada musuh yang selalu berusaha membimbing ke arah yang bathil.

Musuh-musuh ini memberikan gambaran tentang kebenaran dan kebathilan. Al haq, yang semestinya indah, menjanjikan kebaikan dan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, digambarkan oleh musuh manusia sebagai sesuatu yang menakutkan dan menyusahkan.

Sebaliknya yang bathil, yang mestinya menjijikkan dan berujung pada penderitaan, digambarkan oleh musuh manusia sebagai keindahan nan menyenangkan. Akhirnya banyak orang yang terpedaya, meninggalkan jalan yang benar dan mengikuti jalan yang bathil, iyadzan billah.

Karenanya, wahai saudara-saudaraku, rahimanillahu wa iyyakum ajma’in, kita perlu mengetahui musuh-musuh itu, agar dapat bersikap. Musuh tetaplah musuh, bukan sebagai teman, apalagi sebagai pembimbing. Siapakah musuh-musuh yang selalu berusaha mengajak manusia kepada perbuatan batil dan keliru?

Musuh yang pertama adalah setan. Berbagai macam cara ditempuh oleh setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kebathilan dan menghalangi manusia dari al haq (kebenaran). Dan setan ini sering berhasil menjadikan manusia sebagai pengikutnya. Hanya orang-orang ikhlas dalam ibadahnya yang selamat dari makar dan tipu daya setan. Hanya orang-orang beriman yang bisa menjadikan setan sebagai musuhnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang beriman yang iikhlas dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Di awal kitab Madarijus Salikin dan al Bada-i, pada akhir pembahasan tafsir surat al Mu’awwidzatain (surat an Nas dan al Falaq), Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan cara-cara dan tahapan setan dalam menghembuskan kejahatan dan tipuan kepada manusia.

Tahapan Pertama : Setan mengajak manusia melakukan perbuatan kufur dan syirik, menentang Allah dan RasulNya. Inilah yang paling diinginkan oleh setan. Dengan cara ini, setan telah berhasil menyesatkan banyak orang. Dengan cara ini, manusia dijadikan sebagai tentara dan para abdinya. Jika setan putus asa dan tidak mampu menyeret manusia ke dalam perbuatan kufur, maka setan akan menggodanya dengan tahapan berikutnya.

Tahapan Kedua : Setan mengajak manusia untuk mengamalkan perbuatan bid’ah dalam agama, baik bid’ah dalam masalah aqidah maupun amal perbuatan.

Bid’ah merupakan perbuatan dosa, yang pelakunya sulit diharapkan bertaubat. Setan memberi gambaran yang indah dalam benak manusia, bahwa apa yang dilakukan itu merupakan kebenaran, dan ahli bid’ah mempercayai bisikan setan ini. Karena anggapan yang baik atas perbuatan bid’ah, membuat pelakunya susah melepaskan diri dan bertaubat dari perbuatan yang dianggap baik ini, padahal sebenarnya menyesatkan.

Ketika berhasil menyeret seseorang ke dalam tahapan ini, maka setan akan merasa lega. Karena perbuatan bid’ah merupakan gerbang menuju kekufuran. Dan para pembuat bid’ah menjadi salah satu corong di antara propaganda iblis.

Jika setan tidak mampu menyeretnya ke dalam perbuatan bid’ah, maka dia akan menjebak dan menggiring manusia kepada Tahapan Ketiga : Yaitu perbuatan dosa besar dengan berbagai macam variasinya.

Dosa-dosa besar ini juga merupakan gerbang menuju kekufuran. Setan berhasil menjerumuskan banyak orang dalam dosa besar. Manusia tenggelam dalam perbuatan maksiat, sehingga hatinya menjadi membatu, terhalang dari kebenaran. Kemudian setan menyebarkan berita tentang mereka ini di tengah masyarakat. Setan memanfaatkan tentara dan para abdinya untuk menyebarkan perbuatan dosa ini, terutama jika perbuatan dosa ini dilakukan oleh penguasa atau orang yang diidolakan. Tujuannya, supaya perbuatan-perbuatan mereka dijadikan argumen.

Sebagai misal, yaitu makan riba, mendengarkan musik, menikmati alat-alat musik dan permainan, menyetujui perbuatan bersolek, membuka wajah dan ikhtilath (campur baur) laki-laki dan perempuan, loyal dan suka kepada orang-orang kafir, homoseks, meminum khamr, dan lain sebagainya.

Dalam tahapan ini, setan berhasil menyesatkan banyak orang. Banyak manusia berkubang dalam kemungkaran-kemungkaran. Setan menghiasi amal-amal para idola ini, sehingga mereka menjadi pioner yang mengajak ke perbuatan maksiat secara nyata, atau mungkin dengan ucapan.

Sedangkan orang yang tidak mampu digoda setan dan dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa-dosa besar, maka setan berusaha menyeretnya ke Tahap Keempat : Yaitu melakukan dosa-dosa kecil, sebagai gerbang memasuki dosa-dosa besar. Dosa-dosa kecil ini terkadang dianggap remeh oleh manusia dan tidak peduli dengan pelakunya. Padahal, dosa-dosa kecil itu menyeret untuk melakukan dosa berikutnya.

Diceritakan dalam sebuah hadits dari Sahl bin Sa’d, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

"Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika dosa-dosa itu berkumpul pada diri seseorangو akhirnya akan membuatnya binasa (celaka)"

Maka, tidak diragukan lagi, meremehkan perbuatan dosa kecil, bisa merubah dosa kecil menjadi besar. Sebagaimana perkataan ulama Salaf, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak dosa besar bila diiringi dengan istighfar.

Sebagian yang lain mengatakan, janganlah kalian memandang kecil sebuah dosa, akan tetapi pandanglah keagungan Dzat yang kalian durhakai.

Jika setan merasa lemah dan tidak mampu menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan-pebuatan dosa ini, maka setan menggoda manusia dengan tahapan kelima. Yaitu menyibukkan manusia dengan perkara-perkara mubah yang tidak mendatangkan pahala, dan juga tidak mengakibatkan dosa. Menyibukkan perkara-perkara mubah, berarti menyia-nyiakan waktu dan usia, tidak memanfaatkankanya dengan kebaikan dan perbuatan shalih.

Betapa banyak manusia tertipu dengan perkara-perkara mubah, berlebih-lebihan dalam makanan, minum, rumah, pakaian. Demi keperluan ini, manusia telah menyia-nyiakan sejumlah harta, usia dan waktu, lalai dengan kebaikan, tidak berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga, perbuatan mubah ini bisa menjadi penyebab seseorang lupa kepada akhirat, dan lupa melakukan persiapan untuk menyongsongnya.

Sedangkan manusia yang tidak bisa dijerumuskan dengan tahapan ini, maka setan akan mengganggunya dengan Tahapan Keenam, yaitu mengalihkan perhatian manusia dari amalan-amalan yang lebih baik kepada amalan yang di bawahnya. Sebagai misal, seseorang akan menggunakan harta untuk hal-hal yang bernilai baik tetapi kurang. Disibukkan dengan amalan-amalan marjuh (bernilai baik tetapi kurang), sehingga (salah satu wujudnya) mempelajari ilmu-ilmu yang tidak memiliki urgensitas dan kehilangan ilmu yang bermanfaat.

Atau seseorang itu lebih memilih melakukan usaha-usaha yang masih memiliki syubhat daripada usaha yang jelas-jelas halal. Lebih mengutamakan ibadah-ibadah qashirah (yaitu manfaat ibadahnya hanya sebatas untuk si pelaku saja, seperti shalat sunnah) daripada ibadah muta’addiyah (ibadah yang manfaatnya juga akan dirasakan oleh orang lain) seperti jihad, mengajarkan ilmu, memerintahkan kepada yang ma’ruf, mencegah dari kemungkaran. Akibatnya, dia akan kehilangan kebaikan yang banyak.

Inilah tipu daya musuh setan. Saat setan merasa lemah dan tidak mampu menjerat sebagian manusia dalam perangkap-perangkap ini, maka setan memberikan kuasa kepada wali-walinya dan para abdinya dari kalangan jin dan manusia, serta orang yang tertipu dengan bisikannya. Lalu mereka menghina orang-orang baik ini dengan tujuan menyakiti wali dan para kekasih Allah Azza wa Jalla. Mereka menyiksanya dengan siksa yang buruk, seperti pembunuhan, pengusiran, penahanan, penyiksaan, penghinaan, pelecehan terhadap amalan-amalan orang-orang baik ini, sebagaimana kejadian yang dialami oleh para nabi Allah dan pengikutnya pada setiap waktu dan di semua tempat.

Semoga Allah melindungi kita dari semua makar dan tipu daya setan.

Musuh manusia yang kedua, adalah nafsu yang senantiasa mengajak kepada keburukan.

Hawa nafsu ini cendrung kepada kebathilan, menghalangi manusia agar tidak menerima kebenaran dan tidak mengamalkannya. Jika jiwa ini muthmainnah (tenang dalam kebenaran), lebih mengutamakan yang hak, maka dia akan membimbing manusia ke arah yang benar dan berjalan di atas jalan keselamatan.

Musuh manusia yang ketiga, adalah menjadikan hawa nafsu ini sebagai ilah, yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan selain Allah. Disebutkan dalam firman Allah :

"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (sesembahannya). Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?" [al Furqon : 43].

Seseorang yang selalu memperturutkan segala keinginannya, ia tidak akan peduli dengan akibat buruknya. Dalam sebuah atsar diriwayatkan, di bawah kolong langit ini, tidak ada yang lebih jelek dibandingkan hawa nafsu yang diperturutkan.

Adapun musuh manusia yang keempat adalah gemerlap dunia, kenikmatan dan hiasannya. Keindahan dunia dan berbagai kenikmatan semunya, telah menipu banyak orang, membuat manusia lupa kepada tujuan hidupnya yang hakiki. Padahal kehidupan akhirat dan segala isinya jauh lebih baik dibandingkan dengan kehidupan dunia yang fana. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah, adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?" [al Qashash : 60]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman :

"Tetapi kamu (orang-orang) kafir lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal". [al A’la : 16-17].

Demikian beberapa musuh yang sering menghalangi manusia dari berbuat amal shalih. Semoga Allah melindungi kita dari semua makar dan tipu daya yang menyesatkan.

Jika musuh-musuh bisa menguasai diri seorang manusia, maka dampak yang terlihat adalah tidak semangat dalam melakukan ketaatan. Dan sebaliknya, ia justru semangat dan tidak takut melakukan perbuatan maksiat.

Meski begitu, Allah Azza wa Jalla yang Maha Rahim tidak membiarkan para hambaNya untuk menghadapi musuhnya seorang diri. Allah Azza wa Jalla berjanji akan menolong manusia dalam menghadapi musuh-musuhnya ini. Allah memerintahkan kepada kita agar memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, serta memerintahkan manusia agar memohon pertolongan kepada Allah k dalam melakukan amalan yang susah ataupun berat baginya.

Allah Azza wa Jalla juga memerintahkan kepada para hambaNya agar ikhlas dalam melakukan ketaatan. Dengan demikian, dia akan termasuk hamba-hamba pilihan. Hamba-hamba yang ikhlas akan dibentengi Allah Azza wa Jalla dari kekuasaan musuh. Allah Azza wa Jalla berfirman :

"Sesungguhnya hamba-hambaku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabb-mu sebagai Penjaga" [al Israa` : 65].

Semoga Allah senantiasa menolong kita dalam menghadapi godaan musuh-musuh, yang senantiasa menghalangi manusia dari jalan ketaatan. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang ikhlas, dan senantiasa mengikuti petunjuk Raslullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,