Apakah suami isteri wajib mandi setelah jima’, walaupun tidak mengalami orgasme?
https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag
Jawaban
Ya, keduanya wajib mandi, baik mengalami orgasme maupun tidak,
berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Jika seseorang duduk di antara empat anggota tubuh wanita (menindihnya) kemudian menggaulinya, maka ia wajib mandi."
Dalam lafazh Muslim.
"Walaupun tidak mengalami orgasme (keluar mani)." [1]
Ini menegaskan tentang wajibnya mandi, walaupun tidak mengalami orgasme.
Hal ini tidak diketahui oleh banyak manusia. Oleh karena itu mereka
wajib menyadari akan hal itu. [2]
PERTANYAAN APAKAH ISTERI WAJIB MANDI?
Apakah isteri saya wajib mandi janabah pada saat dimasuki ketika
bersetubuh, tetapi tanpa orgasme dalam rahim. Apakah dia wajib mandi
ketika sperma masuk dalam rahimnya, ataukah dia cukup mencuci tubuhnya
dan anggota tubuhnya saja?
Jawaban
Ya, dia wajib mandi jika dimasuki walaupun sedikit; berdasarkan hadits:
"Jika seseorang duduk di antara empat anggota tubuh wanita (menindihnya)
kemudian menggaulinya, maka ia wajib mandi, meskipun tidak mengalami
orgasme."
Dan hadits.
"Jika dua kemaluan telah bertemu, maka wajib mandi." [3]
Demikian pula dia wajib mandi seandainya sperma masuk ke dalam rahim,
karena dimasuki dan mengalami orgasme pada umumnya. Tetapi cukup dengan
berwudhu’ jika hanya sekedar bersentuhan tanpa memasukinya. [4]
PERTANYAAN TENTANG HUKUM MANDI BAGI SUAMI ISTERI
Seseorang duduk di antara empat enggota tubuh isterinya dan dua kemaluan
bersentuhan tanpa memasuki, kemudian orgasme di luar kemaluan, apakah
keduanya wajib mandi?
Jawaban
Laki-laki wajib mandi karena telah orgasme. Adapun wanita tidak wajib
mandi. Karena syarat wajibnya mandi ialah memasuki. Seperti diketahui
bahwa letak khitan ialah pucuk penis hingga sekitar pergelangan penis.
Jika memang demikian, maka tidak bisa menyentuh tempat khitan wanita
kecuali setelah pucuk penis memasukinya. Karena itu, kita mensyaratkan
tentang wajibnya mandi karena persetubuhan bila pucuk kemaluan telah
masuk. Disinyalir pada sebagian lafazh (redaksi) hadits ‘Abdullah bin
‘Amr bin al-‘Ash:
"Jika dua khitan (atau kemaluan) telah bertemu dan pucuk penis telah masuk, maka wajib mandi." [5]
Pertanyaan : Tentang Hukum Keluarnya Air Kencing Bersama Sisa-Sisa Mani
Seseorang mencampuri isterinya kemudian mandi. Setelah itu, keluar
sisa-sisa mani bersama air kencing; apakah dia harus mandi lagi?
Jawaban
Orang yang telah mandi janabah kemudian mani keluar darinya setelah
mandi, maka dia sudah cukup dengan mandinya tersebut dan ia tidak wajib
mandi lagi. Ia hanya wajib beristinja dan berwudhu’, wa billaahit
taufiiq. [6]
PERTANYAAN TENTANG HUKUM MANDI DARI JANABAH
Seorang teman memberitahukanku bahwa jika seorang muslim menyetubuhi
isterinya, maka dia harus buang air kecil sebelum mandi. Jika tidak,
maka ia masih tetap junub. Karena cairan mani dalam kemaluan tidak bisa
dihilangkan kecuali oleh air kencing, sebagaimana yang dia katakan. Lalu
apa pendapatmu yang mulia?
Jawaban
Bahkan mandinya telah sah, meskipun tidak buang air kecil. Jika dia
buang air kecil setelah itu dan mani keluar sedikit dengan sendirinya
atau bersama air kencing tanpa syahwat, maka ia tidak wajib mandi untuk
kedua kalinya, tapi cukup beristinja dan berwudhu’, wa billaahit
taufiiq.
PERTANYAAN TENTANG MENCAMPURI ISTERI SETELAH MELAHIRKAN
Jika wanita yang hamil melahirkan dan (setelahnya) tidak mengeluarkan
darah, apakah suaminya halal untuk menyetubuhinya, dan apakah dia harus
shalat dan berpuasa ataukah tidak?
Jawaban
Jika wanita yang hamil melahirkan dan (setelahnya) tidak mengeluarkan
darah, maka dia wajib mandi, shalat dan berpuasa, serta suami boleh
menyetubuhinya setelah dia mandi. Karena pada umumnya, dalam melahirkan
itu darah akan keluar walaupun sedikit, bersama bayi yang dilahirkan
atau sesudahnya. [7]
PERTANYAAN TENTANG MENCAMPURI ISTERI BEBERAPA WAKTU SETELAH MELAHIRKAN
Apakah laki-laki boleh menyetubuhi isterinya selang 30 hari atau 25 hari
setelah melahirkan, ataukah tidak kecuali setelah 40 hari? Karena saya
mendengar sebagian orang mengatakan bahwa itu tergantung kemampuan
isteri. Sebagian lainnya mengatakan: “Harus sempurna 40 hari.” Saya
tidak tahu mana yang paling benar. Oleh karena itu, beritahukanlah
kepadaku, semoga Allah mem-balasmu dengan sebaik-baik balasan.
Jawaban
Tidak boleh seorang pria menyetubuhi isterinya setelah melahirkan pada
hari-hari nifasnya hingga sempurna 40 hari sejak tanggal kelahiran.
Kecuali bila darah nifas berhenti se-belum 40 hari, maka ia boleh
menyetubuhinya pada waktu darahnya telah terhenti dan setelah mandi.
Jika darah keluar kembali sebelum 40 hari, maka haram menyetubuhinya
pada waktu tersebut. Dan ia harus meninggalkan puasa dan shalat hingga
sempurna 40 hari atau terhentinya darah, wa billaahit taufiiq. [8]
PERTANYAAN TENTANG MENGGAULI WANITA YANG KANDUNGANNYA KEGUGURAN
Di tengah-tengah kami ada seorang wanita yang keguguran kandungan tanpa
sebab; apakah suami meneruskan bercampur ber-samanya secara langsung
ataukah berhenti selama 40 hari?
Jawaban
Jika janin telah terbentuk, yaitu tampak anggota tubuhnya berupa tangan,
kaki, atau kepala, maka ia haram me-nyetubuhinya selagi darah keluar
hingga 40 hari, dan ia boleh me-nyetubuhinya pada saat darah berhenti
selama masa-masa 40 hari tersebut setelah mandi. Adapun jika tidak
tampak anggota tubuhnya dalam janinnya, maka ia boleh menyetubuhinya
walaupun ketika darah tersebut turun, karena tidak dianggap sebagai
darah nifas, tetapi darah kotor. Ia tetap mengerjakan shalat dan
berpuasa serta suaminya halal menyetubuhinya. Ia harus berwudhu’ pada
tiap-tiap shalat. [9]
[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia
Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin
Kamal bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu
Katsair]
_____https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag_____
Foote Note
[1]. HR. Al-Bukhari (no. 291) kitab al-Ghusl, Muslim (no. 348) kitab
al-Haidh, an-Nasa-i (no. 191) kitab ath-Thahaarah, Abu Dawud (no. 216)
kitab ath-Thahaarah, Ibnu Majah (no. 610) kitab ath-Thahaarah wa
Sunanuhaa, Ahmad (no. 9733) ad-Darimi (no. 761) kitab ath-Thahaarah.
[2]. Dinisbatkan oleh penulis buku Fataawaa al-‘Ulamaa’ fii ‘Isratin
Nisaa’ (hal. 36) kepada Majmuu’ Rasaa-il, karya Syaikh al-‘Utsaimin.
[3]. HR. Muslim (no. 349) kitab al-Haidh, at-Tirmidzi (no. 108) kitab
ath-Thahaarah, Ibnu Majah (no. 608) kitab ath-Thahaarah wa Sunanuhaa,
Ahmad (no. 3686), Malik (no. 104) kitab ath-Thahaarah.
[4]. Dinisbatkan oleh penulis kitab Fataawaa al-‘Ulamaa' fii ‘Isyratin Nisaa' (hal. 37), kepada Fataawaa al-Mar-ah.
[5]. Dinisbatkan oleh penulis kitab Fataawaa al-‘Ulamaa' fii ‘Isyratin
Nisaa' (hal. 38), kepada Majmuu’ Fataawaa wa Rasaa-il karya Syaikh Ibnu
‘Utsaimin.
[6]. Dinisbatkan oleh penulis buku Fataawaa al-‘Ulamaa' fii ‘Isyratin
Nisaa' (hal. 40), kepada Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Iftaa'.
[7]. Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Iftaa', yang dinukil dari Fataawaa al-‘Ulamaa' fii ‘Isyratin Nisaa' (hal. 41).
[8]. Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Iftaa' yang dinukil dari Fataawaa al-‘Ulamaa fii ‘Isyratin Nisaa' (hal. 43).
[9]. Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Iftaa' yang dinukil dari Fataawaa al-‘Ulamaa’ fii ‘Isyratin Nisaa' (hal. 44).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar