BERSIKAP ADIL DI ANTARA SEMUA ANAK
https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,
Dari Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Ayahku pernah menyedekahkan
sebagian hartanya kepadaku. Lalu ibuku, ‘Amrah binti Rawahah berkata,
‘Aku tidak rela sehingga engkau meminta disaksikan oleh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Maka ayahku pun berangkat menghadap
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi saksi baginya
atas sedekah yang diberikan kepadaku. Maka Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini
kepada anakmu semua?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda:
"Bertakwalah kepada Allah dan berbuatlah adil di antara anak-anakmu.’
Kemudian ayahku kembali lagi dan mengambil sedekah tersebut” [Al-Bukhari
dan Muslim]
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung
pengertian keharusan untuk menyamaratakan anak-anak dalam hal pemberian.
Di mana masing-masing diberi sama, tidak boleh membedakan satu dengan
yang lainnya, serta menyamakan antara anak laki-laki dan perempuan”
MENGAJARI DAN MENDIDIK ANAK PEREMPUAN
Allah Ta’ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
siksa api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya
Malaikat-Malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan" [At-Tahrim: 6]
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Shahiih keduanya,
dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kedua orang tuanya
yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi, seperti binatang yang
melahirkan binatang juga, apakah engkau melihat kekurangan padanya?”
Anak yang lahir dan tumbuh berdasarkan fithrah yang baik ini bisa
menerima yang baik dan bisa juga yang buruk, sehingga ia perlu
diajarkan, dibimbing, dan diarahkan dengan pengarahan yang baik dan
benar di atas jalan Islam.
Berhati-hatilah, jangan sampai kalian menyepelekan anak perempuan
seperti binatang yang tidak mengetahui urusan agamanya dan urusan
dunianya. Dan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
terdapat teladan yang baik bagi kalian.
Al-Bukhari telah membuat bab tersendiri di dalam kitab Shahiihnya di
dalam kitab al-‘Ilmu, bab Ta’liim ar-Rajul Amatahu wa Ahlahu (bab
Seseorang yang Mengajari Budak dan Keluarganya). Kemudian dia
menyebutkan di bawah judul bab tersebut hadits Abu Musa Radhiyallahu
‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda.
“Ada tiga orang yang akan mendapatkan dua pahala: (1) seseorang dari
ahlul kitab yang beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (2) seorang hamba sahaya jika
melaksanakan hak Allah dan hak majikannya, (3) dan seseorang yang
memiliki hamba sahaya, lalu dia membimbingnya dengan sebaik-baik
bimbingan serta mengajarinya dengan sebaik-baik pengajaran kepadanya,
kemudian memerdekakan, lalu menikahinya, maka baginya dua pahala.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab Sunannya dengan sanad yang
hasan. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka
berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat
ketika mereka berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah mereka dari tempat
tidur mereka.”
Di dalam hadits ini terkandung bimbingan yang sangat berarti dalam
mendidik anak, yaitu bahwa cara mendidik itu berbeda-beda dari zaman ke
zaman. Dan setiap anak diperintah sesuai dengan kemampuannya.
Demikian juga dengan cara memberikan pelajaran, berbeda antara satu anak
dengan anak yang lainnya. Ada di antara mereka yang akan baru sadar
dengan pukulan dan ada pula yang sadar hanya dengan kata-kata yang baik.
Dan setiap tempat memiliki kalimat (cara) tersendiri.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab Shahiih
keduanya. Dari hadits ‘Umar bin Abi Salamah, dia berkata, “Dulu ketika
masih kecil aku pernah berada di kamar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, sementara tanganku menjulur ke piring, maka Rasulullah berkata
kepadaku.
“Wahai anak kecil, sebutlah Nama Allah dan makanlah dengan tangan
kananmu serta makanlah makanan yang dekat denganmu.’ Cara makanku
setelah itu berlangsung demikian.”
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahiihnya, Dari hadits
Hudzaifah, dia berkata, “Jika kami dihidangkan makanan bersama Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami tidak akan meletakkan tangan
kami di hidangan tersebut sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam memulai, lalu beliau meletakkan tangan beliau di tempat hidangan
tersebut. Dan sesungguhnya suatu ketika kami pernah menghadiri suatu
jamuan makan. Kami tidak meletakkan tangan kami sehingga Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai. Lalu beliau meletakkan tangan
beliau. Dan sesungguhnya kami pernah menghadiri jamuan makan bersama
beliau, lalu datang seorang anak wanita, seakan-akan ia tergiur, maka ia
pun menuju hidangan tersebut dan meletakkan tangannya pada makanan,
maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menarik tangan anak wanita
itu. Setelah itu datang seorang badui, seakan-akan dia didorong
sehingga beliau pun menarik tangan orang itu, lalu Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya syaitan itu menghalalkan makanan yang tidak disebutkan
Nama Allah padanya. Dan sesungguhnya syaitan itu telah datang menyeret
anak wanita ini untuk menghalalkan makanan itu baginya, lalu aku menarik
tangannya. Lalu dia juga menyeret orang badui ini untuk mengambil
makanan itu, lalu aku menarik tangannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, sesungguhnya tangan badui itu di tanganku bersama dengan
tangan anak wanita tersebut.”
Oleh karena itu, janganlah meremehkan dalam pengurusan anak kecil dengan
menunda-nunda untuk memberikan pengajaran. Dan janganlah berlebihan
serta keras dalam bertindak terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman:
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan
janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar…"
[An-Nisaa': 171]
Sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:
“Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit. Berikanlah berita gembira, dan janganlah kalian menakut-nakuti”
Jika pengarahan itu ditujukan bagi orang dewasa, lalu bagai-mana menurut Anda bagi anak kecil?
Demikian juga orang dewasa, yang sudah pasti membutuhkan pengajaran:
Dari ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Fathimah pernah mengeluh karena
(sakit) akibat batu yang dipergunakan untuk menumbuk. Lalu terdengar
olehnya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan
tawanan. Kemudian Fathimah datang meminta pelayan kepada beliau, tetapi
Nabi tidak menyetujuinya. Lalu dia menyebutkan kepada ‘Aisyah. Kemudian
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, maka ‘Aisyah pun menceritakan
hal tersebut kepada beliau. Lantas beliau mendatangi kami sedang kami
tengah berbaring, maka kami pun beranjak bangun, lalu beliau bersabda,
“Tetaplah di tempat kalian.” Sehingga aku merasakan dingin kaki beliau
di dadaku. Lalu beliau bersabda:
“Maukah kalian aku tunjukkan kepada apa yang lebih baik daripada apa
yang kalian minta kepadaku? Jika kalian beranjak ke tempat tidur kalian,
maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertahmidlah tiga puluh tiga
kali, serta bertasbihlah tiga puluh tiga kali, karena sesungguhnya yang
demikian itu lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian minta.”
[Al-Bu-khari dan Muslim]
Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Salah seorang
puteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim seorang utusan
kepada beliau untuk mengundang dan mengabari beliau bahwa anaknya -atau
puteranya- akan meninggal dunia, maka beliau berkata kepada utusan itu:
“Kembali lagi kepadanya dan beritahukan kepadanya bahwa Allah Ta’ala
berhak untuk mengambil dan berhak memberi. Dan segala sesuatu di
sisi-Nya telah ditentukan batasnya. Maka perintahkanlah dia, suruh dia
bersabar serta mengharapkan pahala dari Allah.’” Kemudian Usamah
menyebutkan hadits ini secara lengkap” [Al-Bukhari dan Muslim]
Catatan.
Syaikh Mushthafa di dalam kitabnya, Fiqh Tarbiyatul Abnaa’, hal. 135,
mengatakan, “Terkadang seorang anak berbuat salah, karenanya ia
memerlukan bimbingan. Lalu sang ibu datang untuk membimbingnya. Tetapi,
sang suami yang berakal justeru menghardik sang ibu di hadapan anaknya
sehingga berdampak negatif bagi anaknya, yang mengakibatkan kewibawaan
sang ibu jatuh. Oleh karena itu, berhati-hatilah Anda agar tidak
menghardik isteri di hadapan anaknya, tetapi hendaklah Anda berlemah
lembut dalam bertutur kata dan berikan penghormatan terhadap kewibawaan
dan harga dirinya. Katakan kepadanya, misalnya, ‘Menurutku anak ini
belum pantas untuk dipukul, semoga Allah memberikan ampunan pada kali
ini, maka maafkanlah untuk kali ini. Dan jika dia mengulanginya lagi,
maka berikanlah hukuman. Dan aku akan memberinya hukuman yang sama
denganmu.’https://www.facebook.com/aang.muttaqin, Oleh :ir aang zezen zainal muttaqin.SH.M.Ag,
Jika seorang ibu dipukul dan dihardik olehmu di hadapan anak-anaknya,
maka hal itu akan tampak jelas di mata anak-anaknya dan berpengaruh
terhadap psikologinya. Di antara mereka bahkan akan ada yang marah dan
membencimu serta sangat sedih atas apa yang dialami ibunya. Dan di
antara mereka juga ada yang memendam hal tersebut di dalam dirinya,
sehingga apabila ia melakukan kesalahan atau ditegur oleh ibunya, ia
akan mengatakan kepadanya, ‘Aku akan adukan kepada ayah, nanti ayah akan
memukulmu seperti yang pernah dilakukannya dulu.’ Beranjak dari hal
tersebut, maka rumah sangat berpengaruh sekali terhadap anak.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar